Suara ayam berkokok terdengar nyaring dari kejauhan. Sebuah tanda sang pagi telah tiba diiringi semilir angin berhembus di celah-celah jendela kayu. Perlahan tapi sangat terasa dingin dan manusuk. Rudi meraih kain sarungnya yang melorot. Ditarik perlahan sampai menutupi kepalanya. Pagi itu terasa oleh Rudi sangat dingin sekali. Hembusan angin subuh terasa menembus sampai ke tulang. Ngilu dan dingin seperti es batu. Ia melanjutkan tidurnya. Berbaring dengan lutut ditekuk hingga ke bagian dada. Kedua tangannya dijepit diantara kedua pahanya sambil menahan batang kemaluannya yang mengeras. Sekilas tampak seperti seekor anak anjing yang sedang kedinginan.
Seperti biasa. Rudi selalu bangun agak siang. Ia bergegas menuju kamar mandi. Di kamar mandi Ia melakukan ritual pagi yang dijadikan kedalam satu paket kegiatan. Buang air besar dilanjutkan dengan mandi dan mencuci pakaian dalam. Sambil mengenakan seragam sekolah Ia membuka gordeng jendela. Tampak jelas kesibukan pagi hari di rumah tetangga sebelah. Mata Rudi menari-nari seperti ada yang dicari. Namun tampaknya tidak ada yang menarik baginya. Rudi bergegas berangkat sekolah. Berjalan agak terburu-buru karena takut kesiangan.
Tidak terasa sudah memasuki tahun ketiga Rudi tinggal di sebuah kota kecil yang jauh dari kampung halamannya. Setelah kedua orang tuanya memutuskan anaknya untuk melanjutkan sekolah di sebuah sekolah kejuruan. Rudi dititipkan kepada keluarga teman ayahnya yang tinggal disebuah perumahan sangat sederhana. Rudi pun harus rela tinggal di sebuah kamar sempit paling belakang. Namun bukan halangan untuk seorang Rudi yang telah terbiasa tinggal di kampung yang kumuh. Jauh dari hiruk pikuk keramaian. Gersang, sunyi dan sepi.
Seminggu terakhir ini Rudi agak terganggu kehidupannya. Suara berisik dan debu dari rumah tetangga sebelah. Membuat Rudi jengah dan gelisah. Terutama saat Ia pulang sekolah. Rupanya di rumah tetangga sebelah sedang ada pekerjaan renovasi rumah. Sepertinya akan menambah ruangan. Maklum rumah sangat sederhana. Sisa lahan yang ada harus dimanfaatkan dengan baik. Agar dapat ditinggali dengan nyaman. Walaupun saling berhimpitan dengan rumah tetangga.
Semenjak rumah tetangga sebelah direnovasi, Rudi sering mendengar suara aneh ditengah malam. Seperti ada orang mencuci atau mandi. Pikiran Rudi curiga bercampur dengan perasaan takut. Maklum Ia seorang penakut. Karena rumah tetangga sebelah sedang di renovasi. Mungkin hantu-hantu yang ada di rumah itu tergganggu dan melakukan sesuatu ditengah malam. Pikiran Rudi melayang dan kacau. Membayangkan cerita orang-orang di kampungnya tentang hantu-hantu yang sering mengganggu ditengah malam. Hiiiii ...
Suasana malam itu tidak seperti biasanya. Sama sekali tidak terdengar suara-suara aneh di tengah malam. Padahal renovasi rumah itu belum selesai. Rudi pun tenang dan bisa tidur nyenyak. Mungkin hantu-hantunya sedang istirahat atau bosan mengganggu manusia. Rudi pun membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur sambil membaca sebuah buku cerita yang sedang ngetren saat itu. Kho Ping Ho.
Sayup-sayup terdengar dari kejauhan ada seseorang memanggil namanya. Suara seorang wanita muda. Lembut nan jernih. Namun Rudi tidak tahu suara siapa gerangan yang memanggilnya. Rudi menoleh ke arah sumber suara itu. Tampak sesosok wanita muda yang tidak asing lagi baginya. Dia melambaikan tangan memanggil Rudi yang sedang terpana. Rudi tidak menyangka wanita idamannya mau memanggil dan mendekatinya. Rudi pun bergegas menghampiri wanita itu dengan perasaan senang dan gugup. Wanita itu tersenyum simpul dan mengajak bersalaman. Telapak tangannya terasa sangat lembut bagaikan kapas. Hangat dan menggoda. Tiba-tiba dia memeluk tubuh Rudi sambil tersenyum. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Rudi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Badannya terasa panas dingin. Jantungnya berdetak kencang. Terasa ada tonjolan lembut yang menempel didadanya. Nafas Rudi pun tak beraturan menahan birahi. Sejenak mereka saling bertatapan mata. Rudi mencoba mendekatkan wajahnya pada sebuah wajah cantik nan sayu dan pasrah. Perlahan Dia memejamkan matanya dan membuka bibirnya yang basah dan ranum. Rudi pun tak kuasa menahan birahinya yang dari tadi telah memuncak. Dan ... “byiur!” ... “byiur!” ... “byiur!” ... terdengar suara siraman air dari balik jendela. Rudi pun terjaga.
“Astagfirullah!!!”.
Waktu pun telah menunjukkan jam setengah enam pagi. Rudi mencoba bangun dari tempat tidurnya. Bergegas menarik kusri reyotnya ke samping jendela kamar. Perlahan Ia memanjat kursi dan pas berdiri di samping jendela itu. Perlahan Ia singkap gordeng lusuh yang menempel di jendela. Dan ... “Jedug!!!” ... jantung rudi tiba-tiba berdetak kencang tak baraturan. Terasa seperti ditikam sebuah martil. Gigi dan lutut Rudi bergetar hebat seiring dan seirama. Sebuah pemandangan yang belum pernah Ia lihat selama hidupnya. Terlihat jelas sesosok tubuh wanita muda telanjang bulat membelakangi sedang melingkarkan handuk di badannya. Sekilas terlihat pantatnya yang padat dan berisi. Putih bersih dan mulus. Kepala Rudi terasa melayang. Seperti sedang terbang tinggi ke angkasa menuju bintang-bintang di langit. Pikirannya limbung dan kacau. Ia ambruk dan bersandar di dinding sambil menjambak rambutnya. Membayangkan sebuah peristiwa yang baru saja terjadi.
Sejak saat itu Rudi menyadari bahwa suara gemercik air yang sering terdengar dari balik jendela ditengah malam bukanlah suara hantu. Tetapi suara manusia. Karena rumah itu sedang direnovasi. Pemilik rumah itu sengaja memindahkan kamar mandinya. Hanya untuk sementara waktu hingga renovasi rumahnya selesai. Konsentrasi Rudi pun menjadi buyar dan kacau. Di sekolah ia sering melamun sendirian. Seperti seorang yang sedang dimabuk cinta. Pikirannya selalu melayang dan terbayang-bayang dengan sebuah peristiwa yang pernah disaksikannya. Pikiran Rudi mulai kotor dan ngeres. Ia berpikir keras mencari cara agar bisa menyaksikan kembali sebuah opera dari balik jendela itu. Takut ketahuan tapi ingin mengulang kembali.
Adalah Nina Nurmala yang biasa dipanggil Nina. Dia anak pertama tetangga sebelah yang sedang merenovasi rumahnya. Usianya baru lima belas tahun. Perawakannya tidak seperti anak seusianya. Tinggi semampai. Kulitnya putih bersih. Lekuk tubuhnya sangat aduhay. Payudaranya terlihat besar dan kencang. Hidungnya bangir dengan sorot mata yang tajam melingkar dibawah alis mata yang hitam dan tebal. Terlihat serasi dengan rambutnya yang lurus terurai hingga jatuh di bahu. Namun Dia seorang wanita pemalu. Dia juga merupakan seorang primadona di sekitar perumahan. Banyak pemuda sebayanya maupun bapak-bapak yang sering terdengar menceritakan kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Tidak terkcuali dengan Rudi.
Sejak datang dan tinggal di perumahan itu diam-diam Rudi telah jatuh hati kepada Nina. Namun apa daya. Rudi tidak memiliki nyali untuk mendekatinya. Walau rumahnya berdekatan. Jika kebetulan berpapasan di jalan. Rudi selalu gugup dan kikuk. Sementara Nina hanya tertunduk malu. Rudi hanya berani mencuri pandang saja walau hatinya berharap bisa mendekatinya. Walau Ia telah melihat sekilas lekuk tubuhnya yang putih dan mulus. Namun tetap saja. Rudi tidak memiliki nyali yang kuat. Merasa minder dan rendah diri. Maklum Ia orang kampung.
Malam itu Rudi terlihat resah dan gelisah. Tidak sabar untuk menyaksikan sebuah opera dari balik jendela yang Ia dambakan. Rencana busuknya telah Ia susun sedemikan rupa. Agar tidak ketahuan. Gordeng jendela Ia tata sedemikian rupa agar aman dan tidak tampak seorang penonton yang sedang asyik menyaksikan sebuah opera. Lampu kamar mulai dimatikan. Panggung opera pun telah tertata rapi. Gelap, sepi dan sunyi. Pukul lima pagi lebih sedikit pagelaran opera akan dimulai. Rudi mencoba untuk memejamkan mata. Namun tetap saja terjaga hingga larut malam. Akhirnya Ia putuskan untuk tidak tidur semalaman demi menyaksikan opera itu.
“Tok tok!” ... “tok tok!” ... “tok tok!” ... “tok tok tok!” ... terdengar pintu kamar ada yang mengetuk. Rudi pun terjaga.
“Astagfirullah!!!”.
“Naaak bangun!” ... “sudah siang!” ... “nanti sekolahnya terlambat!” ... seru ibu kost sambil mengetuk pintu kamar.
“Iii ... iya bu!” ... sahut Rudi sambil bergegas bangun dari tempat tidurnya.
Tiba-tiba ... “plakkk!!!” ... Rudi menepuk jidatnya.
“Gagal Maning!!!” ... “Gagal Maning!!!” ... Rudi setengah menggerutu penuh penyesalan karena tidak dapat menyaksikan opera pagi itu. Padahal tiket sudah Ia beli sejak tadi malam.
Pikiran dan hati Rudi bertambah gundah gulana dan gelisah. Rasa penasaran menghantui dirinya. Ingin menyaksikan kembali opera dibalik jendela itu yang sangat mengasyikan dan menegangkan. Namun nyatanya tidak semudah yang ia bayangkan. Semua rencana yang telah tersusun rapi buyar dan kacau balau. Hanya gara-gara masalah sepele. Ketiduran. Tetapi bukanlah seorang Rudiansyah kalau harus putus asa. Mumpung masih ada kesempatan yang kedua pikirnya. Sebelum rumah itu selesai di renovasi. Rencana busuk berikutnya Ia susun kembali. Hampir tidak ada perubahan strategi dibanding dengan rencana kemarin malam.
Pukul setengah lima pagi Rudi sudah berdiri dibalik jendela. Badannya disandarkan di dinding sambil menatap tajam ke arah panggung opera. Terlihat sepi, sunyi dan gelap. Setengah jam berlalu, pagelaran opera belum juga dimulai. Rudi menghela nafas panjang dan pasrah atas nasib yang menimpanya. Hampir saja memutuskan untuk beranjak dari atas kursi reyotnya tempat Ia berdiri. Tiba-tiba lampu panggung opera menyala. Terilhat terang benderang penuh dengan gemerlap cahaya lampu. Rudi mengurungkan niatnya untuk beranjak. Ia konsentrasi memandang ke arah panggung yang terang berderang. Ia menahan nafas dan memantapkan posisi berdirinya agar tidak terjadi seperti kejadian pertama kali. Menonton opera yang tidak disengaja.
Sesosok anak manusia berselendang sehelai handuk memasuki panggung opera. Tidak lain tidak bukan adalah Nina yang akan mandi pagi. Dia mengenakan baju tidur dengan rambut dikepang. Terlihat lehernya yang putih bersih seakan memantulkan cahaya yang menyilaukan mata Rudi yang sejak tadi sudah pasang badan. Rudi pun menelan ludah. Jantungnya mulai berdebar. Menyaksikan pamandangan indah di pagi hari. Sungguh mempesona. Kembali Rudi menelan ludah dan tetap bertahan dengan konsentrasi penuh.
Sehelai handuk telah menggantung di samping jendela. Perlahan Nina membukan kancing baju tidurnya. Dan ... terlihat jelas punggung Nina dengan kutang warna hitam yang masih menempel dibadannya. Punggung Nina yang putih bersih penuh dengan bulu-bulu halus nan lembut membuat Rudi sesak nafas. Satu per satu pakaian yang dikenakan dilepaskan lalu dilempar kedalam ember. Tampak terlihat jelas sesosok tubuh tanpa busana milik Nina. Berdiri membelakangi Rudi yang sejak tadi asyik menyaksikan kemolekan tubuhnya. Tak lama Nina mulai menggosok giginya dengan posisi agak menyamping. Tampak payudaranya yang besar dan kencang gundal gandul. Putingnya terlihat jelas sebesar ujung kelingking berwarna merah jambu, ranum dan kencang. Seakan memanggil dan menggoda Rudi yang sedang melotot tak berkedip untuk mengisapnya.
Tubuh Rudi terlihat mulai bergetar hebat. Mulai ujung kaki hingga ke ubun-ubunnya. Giginya tidak bisa dikatupkan. Bergetar dan beradu diantara gigi atas dan gigi bawahnya. Mulutnya ternganga naik turun tak beraturan. Sambil memegang batang kemaluannya yang semakin mengeras. Rudi tetap berusaha pada posisinya walau kursi yang Ia naiki ikut bergetar. Sesekali berderit dan bergoyang.
Nina dengan asyiknya menyabuni seluruh tubuhnya. Muka hingga ujung kaki disabuni tak satu pun bagian tubuhnya yang terlewat. Punggung dan pantatnya tampak memutih tertutup busa sabun. Dia mulai menganggkang dan sedikit menurunkan badannya. Rupanya Dia sedang membersihkan alat vitalnya. Perlahan Dia menyiduk air dari ember dan menyiram seluruh tubuhnya. Perlahan pula terlihat seluruh tubuhnya terlihat jelas. Lebih bersih. Putih dan mulus. Rudi mengamati dengan seksama penuh hikmat seluruh lekuk tubuh Nina yang telanjang bulat. Dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Rudi terlihat lebih tenang namun tetap penasaran. Ia hanya dapat melihat bagian tubuh Nina dari belakang dan sedikit dari samping. Namun Rudi tetap tidak pernah mengalihkan tatapannya. Tatapan penuh birahi yang terhalang oleh sebuah dinding tembok yang keras dan kuat. Tiba-tiba Nina mengambil sebuah cermin kecil bulat yang ada di kamar mandi itu. Entah apa yang Dia lihat diwajahnya tanpa menyadari sambil berbalik badan menghadap ke arah Rudi yang sedang mengintip. Tubuh Rudi pun kembali bergetar hebat. Batang kemaluannya kembali mengeras. Apa yang terlihat dihadapannya hanya berjarak kurang lebih satu meter seperti sebuah mukjizat. Wajah Nina terhalang oleh cermin yang Dia sedang gunakan untuk melihat jerawat yang ada di wajahnya. Sementara bagian tubuh lainnya bebas terlihat jelas. Kedua puting payudaranya terlihat kencang, montok dan ranum. Mata Rudi seakan tak pernah berkedip ketika matanya tertuju pada sebuah gundukan kecil nan indah yang diselimuti bulu-bulu halus. Alat vital Nina terlihat begitu indah dan menggoda. Kedua paha Nina terlihat jelas. Putih dan mulus. Masih untung ada sebuah tembok penghalang. Kalau tidak. Sudah pasti kejadiannya akan berbeda. Rudi terpaku seperti patung sambil memegang dan meremas batang kemaluannya yang mengeras.
Agak lama Nina memandangi wajahnya diatas cermin. Sementara Rudi asyik menyaksikan pagelaran opera di pagi hari. Tanpa diketahui oleh Nina. Rudi terlihat puas melihat tubuh Nina yang telanjang bulat. Masih berdiri dihadapannya. Tiba-tiba Nina meletakan cerminnya dan seketika Dia jongkok dengan posisi menghadap ke arah Rudi. Rupanya Nina ingin kencing lagi. Seketika pula Rudi kaget dan terkesiap. Badannya kembali terasa panas dingin dan bergetar melihat sesuatu yang merekah merah muda seperti bunga rose yang sedang mekar. Terlihat ada sebuah tonjolan kecil berwarna merah jambu. Seperti sebuah kacang merah. Rudi baru yakin tentang apa yang sering diceritakan bersama teman-temannya. Ia telah menyaksikannya sendiri.
Tak seberapa lama Nina mengambil seciduk air untuk memberishkan alat vitalnya. Namun tak disangka Nina melanjutkan kegiatannya dengan mengelus-elus tonjolan kecil miliknya. Pantatnya agak digoyangkan. Kadang-kadang naik turun. Kadang-kadang menyamping. Nina semakin asyik melanjutkan ritualnya. Dan ... “Aaahhhh!!! .... “ooowwwhhh!!!” ... perlahan Nina melenguh menahan nikmat. Seketika seluruh tubuh Rudi pun ikut bergetar hebat sambil meremas batang kemaluannya. Dan ... “brakkk!!” ... kursi yang dinaiki Rudi pun hancur berantakan. Kursi reyot itu tidak sanggup lagi menahan getaran jiwa dan raga Rudi. Tubuh Rudi pun terhempas terbawa angin dalam bayang-bayang semu.