Friday, March 24, 2017

Pangkalan Ojek

Disudut ruangan sempit sebuah kantor pemasaran, nampak seorang pria setengah baya sedang berkemas barang bawaannya. Adalah Ratimin seorang office boy yang selalu setia melayani semua karyawan yang ada di kantor itu. Hanya sekedar membuatkan minum atau membelikan makan siang, Ratimin tidak pernah menolak. Imbalan pun ia tak pernah minta. Setelah selesai berkemas, Ratimin duduk di sudut ruangan sempit. Ia berharap semua karyawan pulang tepat waktu, tidak ada yang terlambat. Suatu hal yang paling menyebalkan bagi seorang Ratimin, bila ada karyawan yang pulang terlambat dengan alasan lembur atau kejar target. Artinya ia harus pulang terlambat karena harus membersihkan ruangan kantor.  

Dalam perjalanan pulang Ratimin melamun. Pikirannya melayang. Bagaimana mencari uang tambahan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Gaji sebgai office boy tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan sebulan. Untuk menutupi biaya lainnya biasanya Ratimin mangkal di pangkalan ojek tidak jauh dari rumahnya. Sepulang kerja atau pada hari sabtu dan minggu. Ratimin banting tulang mencari tambahan penghasilan sebagai tukang ojek. Semakin hari penumpang ojek semakin berkurang. Penghasilan Ratimin pun jelas berkurang. Tidak sanggup lagi menutupi kebutuhannya. Ratimin pun gelisah dan bingung. 

“Hhhhkkkkkkhhh ... !!!” ... “huuuaaaaaahhhhhh ...!!!” ... Ratimin menggeliat sambil menguap. 

“Sudah pulang Yah!” ... “Kok tumben masih siang! ... ”  ... seru istri Ratimin menyambut sang suami tercinta.

“Masih siang dari Hong Kong!” ... “sudah malam tahu!” ... Seru Ratimin meyela.

“Biasanya setelah isya baru sampai!” ... seru istrinya.

“Kebetulan saja tidak ada yang lembur di kantor” ... “jadi bisa pulang cepat” ... sambung Ratimin sambil bergegas melepaskan pakaiannya dan mencuci muka. Hanya untuk menyingkirkan sedikit debu dan keringat yang menepel di wajahnya.

“Mana kopinya Bun!” ... seru Ratimin sambil merentangkan badan diatas karpet lusuhnya.

“Sabar” ... “kan belum mendidih airnya” ... seru istrinya sambil menuangkan kopi instan ke dalam gelas.

“Anak-anak pada kemana?!” ... seru Ratimin baru teringat anak-anaknya.

“Mereka sedang mengaji di mesjid gang sebelah” ... sambung istrinya.

Ratimin menikmati segelas kopi panas sambil menghisap sebatang rokok. Sementara istrinya menyiapkan makan malam untuk sang suami tercinta. Menu sederhana tapi sungguh mengenyangkan. Mie instan rebus ditumpangi sebutir telur ayam dan sepiring nasi. Ratimin menyantap lahap hidangan makan malam yang disediakan istrinya. Seperti orang yang sedang kelaparan. Terasa gurih dan nikmat. Seakan lupa dunia dan akhirat. Rasa lapar sejak sore tadi telah terobati. Ratimin bersandar di dinding dan menjulurkan kakinya sambil merokok. 

Sebatang rokok telah usai dihisapnya. Ratimin bergegas menuju pangkalan ojek. Malam itu pangkalan ojek terlihat sepi. Hanya ada dua rekannya yang sedang menunggu penumpang. Tarjo dan Sarmidi terlihat sedang duduk sambil menghisap rokok. Ratimin menyandarkan sepeda motornya dan bergabung. Mereka bercengkrama sambil menunggu penumpang nyasar. Malam pun semakin larut. Ratimin dan kedua rekannya belum juga dapat penumpang. Mereka saling berkeluh kesah mencaritakan keadaannya masing-masing. 

“Halow Bang!!!” ... ”gud moning epribadi!!!” ... seru seseorang mengagetkan mereka bertiga yang sedang ngobrol.

“Gud moning gundulmu!!!” ... “gud nait bego!!! ... seru Tarjo yang mengenal sosok kurus kerempeng. Tidak lain dan tidak bukan adalah Juned yang tidak asing lagi baginya. 

“Baru pulang Lho!” ... seru Sarmidi sambil mengisap rokoknya penuh nikmat.

“Iya Bang!” ... “kebetulan dapet sip sore” ... sahut Juned yang bekerja di sebuah toko swalayan sebagai kasir. 

“Duduk dulu disini!” ... “ngapain pulang cepet!” ... “bujangan ... negara masih aman Ned!” ... seru Tarjo sambil bergeser agar Juned duduk di sebelahnya.

“Iya ngapain pulang juga!” ... “paling coli!” ... sambung Sarmidi sedikit meledek.

“Sembarangan!!!” ... seru Juned sambil melangkah duduk disamping Tarjo. Tampak raut mukanya agak memerah. 

“Sar!” ... “mau kemana Lho!” ... tanya Juned melihat Sarmidi yang tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.

“Bentar pesan kopi dulu di warung sebelah!” ... “biar seru ngobrolnya!” ... sahut Sarmidi.

“Mas kopi empat ya!!!” ... “ntar yang bayar si Juned tuh!!!” ... seru Sarmidi setengah berteriak minta kopi kepada penjual kopi angkringan.

“Busyeeettt Lho!!!” ... sontak Juned menimpali setengah berteriak.

“Sekali-kali traktir kami Ned!” ... “kan Lho habis gajian!” ... sahut Sarmidi sambil menghampiri dan menyeringai penuh makna. Diikuti tawa Tarjo dan Ratimin ... “ha ha ha ha ha!!!”.

Kopi Panas telah terhidang dihadapan mereka. Menebar bau harum khas kopi instan kemasan. Suasana makin menyenangkan dan bergairah. Mereka pun bercengkrama hingga larut malam. Bercerita tentang pengalamannya masing-masing. Kadang mereka menceritakan tentang teman-temannya yang congkak. Kadang mereka bercerita tentang hantu yang sering mengganggu di kampungnya. Pokoknya malam itu bagi mereka adalah malam yang penuh dengan tawa dan canda. Bahagia dan senang diiringi hembusan angin malam yang terasa sejuk bagi mereka. Seakan lupa dengan masalah yang mereka sedang hadapi ... Sejenak mereka saling terdiam dan hening.

“Jo ... !” ... Ratimin membuka topik baru.

“Iya Min ... !” ... “Kok serius banget sih Lho!” ... sahut Tarjo sedikit heran melihat perubahan wajah Ratimin yang tiba-tiba murung.

“Ada masalah Lho Min?!” ... tanya Tarjo. Sementara Sarmidi dan Juned hanya memandang Ratimin penuh tanda tanya.

“Kagak juga sih!” ... “hanya heran saja!” ... “makin hari penumpang makin jarang!” ... “penumpang nyasar pun kagak ada!” ... “sampai detik ini penumpang kagak ada yang nongol!” ... keluh Ratimin sambil menghela nafas.

“Pasti lah berkurang!” ... “Elho kurang respon!” ... seru Juned langsung tembak saja.

“Kurang respon gemana Ned?! ... seru Ratimin penuh tanda tanya.

“Elho perhatiin kagak?!” ... “di jalanan sekarang banyak sepeda motor!” ... “orangnya pake jaket hijau ... helm hijau!” ... seru Juned penuh semangat.

“Iya sih sering lihat” ... “katanya ojek onlen” ... “emang kenapa sih Ned?! ... sambung Ratimin ... Tarjo dan Sarmidi hanya manggut-manggut.

“Yeee!!!” ... ‘Elho kagak paham juga Min!” ... “sudah jelas orang-orang sekarang banyak pilih ojek onlen!” ... “harganya lebih murah!” ... “bisa jemput penumpang lagi!” ... “kagak kayak Elho-Elho bisanya hanya nunggu penumpang!” ... seru Juned berapi-api karena sudah lama Juned menyimpan unek-unek sejak kehadiran ojek online.

“Ooo ... gituuu!” ... Ratimin, Tarjo dan Sarmidi menimpali hampir bersamaan.

“Bener juga sih!” ... “pantesan penumpang terus berkurang!” ... sahut Sarmidi baru paham masalahnya.

“Gue sudah tebak masalahnya!” ... Seru Tarjo tambah yakin.

“Sekarang bagaimana jalan keluarnya?!” ... tanya Ratimin putus asa.

“Begini saja Min!” ... “Coba Elho daftar dulu deh ikutan ojek onlen!” ... “nanti kalo Elho sudah ikutan dan sukses!” ... “Gue sama Sarmidi ikut daftar juga!” ... “gemana?!” ...  seru Tarjo melontarkan ide kepada Ratimin.

“Wahhh!” ... “Gue kagak ngarti caranya!” ... seru Ratimin putus asa.

“Jangan putus asa dulu Min!” ... “tanya dulu syarat-syaratnya!” ... “katanya sih gampang!” ... sambung Tarjo penuh asa.

“Tapi ...!“ ... “Gue takut!” ... “Natar Gue digebukin tukang ojek di pangkalan lain!” ... seru Ratimin tambah putus asa. Ia pernah mendengar keributan yang sering terjadi selama ini antara ojek online dengan taksi, ... dengan bajay, ... dengan angkot. Gara-gara rebutan penumpang. Hanya satu saja yang ia belum pernah dengar, yaitu keributan antara ojek online dengan busway. 

Juned yang dari tadi mengantuk sambil mendengarkan obrolan mereka mulai tergugah. Ia merasa sudah saatnya mengeluarkan semua unek-uneknya tentang ojek online. Ia merasa prihatin dengan kaadaan sekarang ini. Tetapi tidak bisa berbuat banyak. Hatinya membara bak arang terbakar. Otaknya terasa mendidih dan panas mendekati seratus dua puluh lima derajat celcius. Rasa kantuknya hilang seketika setelah mendengar obrolan tadi. 

“Begini teman-teman!!!” ... seru Juned berhenti sejenak sambil menghela nafas dan menelan ludah.

“Munculnya ojek onlen adalah tiba-tiba!” ... “mereka datang seperti angin!” ... “mereka datang dari berbagai arah!” ... “yang pada akhirnya saling bertemu dan beradu!” ... “berputar seperti puting beliung!”  ... “mereka merampas penumpang milik orang lain!” ... “mereka tak pernah peduli karena sangat menguntungkan!” ... “lapangan kerja baru pun terbuka lebar!” ... “sebuah jalan keluar yang sangat cerdas!” ... “berkat kemajuan teknologi!” ... “namun diantara itu!” ... “banyak pihak yang merasa menjadi korban!” ... “lahan mereka semakin menyempit!” ...”sementara tuntutan semakin melebar dan luas!” ... “adakah keadilan disini?!” ... “adakah kebijakan yang bisa mengatur?!” ... “ supaya adil dan merata!” ... “sementara kebayakan orang sedang menikmati kecanggihan teknologi!” ... “kemajuan teknologi tidak mungkin berhenti” ... “kemajuan teknologi melaju seiring dengan zaman!” ... “siap kah kita untuk menerimanya?!” ... “bisa kah kita untuk menentangnya?!” ... Juned berseru dengan semangat empat lima bak pejuang kemerdekaan. Puitis namun lebay. 

“Elho ngomong apaan Ned!!!” ... “Kagak ngarti Gue mah!” ... seru Sarmidi bingung.

“Iya Ned!” ... “ngomong saja yang jelas!” ... sambung Tarjo sambil melirik ke arah Ratimin yang dari tadi bengong mendengar ucapan Juned.

“Begini teman-teman!!!” ... seru Juned kembali berhenti sejenak sambil menghela nafas dan menelan ludah.

“Angkot, bajay, taksi sampai baswey ongkosnya sudah ada yang mengatur!” ... “organisasi perusahaannya juga jelas!” ... “sementara taksi dan ojek onlen, mereka buat aturan sendiri!” ... “ perusahaannya masih dipertanyakan!“ ... “ongkosnya lebih murah dari angkutan konvensional yang ada sekarang ini!” ... “sama seperti ojek yang biasa mangkal!” ... “tidak ada aturan baku!” ... “bedanya antara ojek onlen dengan ojek biasa adalah” ... “kalau ojek onlen kagak bisa ditawar!” ... “kalau ojek biasa bisa ditawar!” ... Juned berhenti sejenak sambil meraih gelas kopi yang hampir habis. Diminumya kopi sampai habis. Satu batang rokok sudah menggantung di mulutnya. Dinyalakan dan dihisap perlahan. Juned melanjutkan pembicaraannya.

“Sekarang kalian semua harus tahu masalahnya!” ... “kenapa mereka selalu ribut?!” ... “bahkan sampai ada korban segala!” ... “hanya untuk memperebutkan sepiring nasi!” ... “karena semua pihak tidak ada yang siap!” ... “dari pihak pemerintah belum bisa mengatur!” ... “dari pihak angkutan konvensional tidak siap dengan teknologinya, yang notabene mereka pada umumnya adalah kaum marjinal!” ... “dari pihak taksi dan ojek onlen belum siap menerima regulasinya!” ... “karena regulasi yang mengatur taksi dan ojek onlen baru-baru ini saja dikeluarkan!” ... “mereka protes karena ongkosnya jadi lebih mahal!” ... seru Juned menjelaskan argumentasinya penuh diplomasi seperti seorang pakar yang sedang bicara di televisi.

Ratimin, Tarjo dan Sarmidi hanya bisa bengong saja mendengarkan penjelasan Juned yang begitu diplomatis. Tetapi sesungguhnya mereka sedikit telah mengerti namun tetap bingung. Bingung dengan jargon-jargonnya yang dilontarka oleh Juned. Seperti orang yang sedang orasi pada saat demonstrasi. Mereka juga berpikir keras untuk menyambungkan arti kata dari jargon-jargon itu. Tetapi tetap saja mereka tidak menegerti.

“Ned!” ... “Elho ngomong apa lagi tadi?!” ... “konvensional, regulasi, notabene, kaum marjinal!” ... “Gue pengen tahu artinya!” ... tanya Tarjo sambil garuk-garuk kepala.

“Iya Ned!” ... “tolong jelasin dong!” ... sambung Sarmidi penasaran.

“Ooo ... itu!” ... saut Juned sambil berpikir sejenak.

“Konvensional itu ... jadul ... jaman dulu ... atau kuno!” ... “regulasi itu ... aturan kalo tidak salah!” ... “notabene itu ... catatan bini kalee ... bisa jadi ... latar belakang!” ...  “kalo kaum marjinal itu ... jelas kayak kita sekarang ini ... orang miskin!” ...jawab  Juned menjelaskan sebisanya.

“Ooo ... begitu!” ... Ratimin, Tarjo dan Sarmidi berseru hampir bersamaan sambil mengangguk-angguk kepalanya masing-masing tanda sudah mengerti.

“Hebat Lho Ned!” ... “Kagak nyangka!” ... “ternyata Lho kadang-kadang pinter!” ... “Gue demen deh punya teman kayak Elho!” ... seru Tarjo merasa bangga punya seorang teman yang memiliki wawasan luas. Sementara Ratimin dan Sarmidi hanya menyeringai sambil mengacungkan kedua jempolnya.

“Ah Elho!” ...  “bisa aja!” ... saut Juned merasa tersanjung dan ge er. Nampak lobang hidung Juned terlihat sedikit membesar mendapat pujian dari teman-temannya.

“Elho belajar dimana Ned?!” ... “perasaan Lho kuliah saja kagak tamat?!” ... tanya Sarmidi penuh selidik.

“Iya Ned!” ... “semenjak Lho kerja banyak sekali perubahan!” ... sambung Ratimin dengan bangga.

“Kalo kalian pengen tahu” ... “begini ceritanya!” ... saut Juned bersemangat.

“Gemana Ned?!” ... “coba ceritakan biar kita semua jadi orang pinter kayak Elho!” ... Sambung Sarmidi penasaran.

“Gue tadi sebelum pulang kerja ada rapat dengan supervisor” ... “biasa kalo bos datang selalu memberikan pengarahan tentang pekerjaan” ... “kagak lama sih pengarahannya” ... “paling kagak sampe setengah jam” ... “yang lama itu ngobrolnya” ... “kalo beliau sudah datang jangan sekali-kali membuka topik pembicaraan” ... “pasti melebar kemana-mana” ... “tadi temen Gue ada yang basa basi” ... “bener deh melebar obrolannya” ... “sampe nyeritain tentang ojek onlen itu” ... “Gue mah hanya denger saja kagak ikut-ikutan” ... “nah ...” ... “yang tadi Gue omongin sama Elho-Elho semua adalah omongannya bos gue!” ... “gaya bicaranya kaya Gue tadi!” ... Juned menjelaskan pengalaman mendapat pengetahuannya.

“Ooo ... begitu!” ... Ratimin, Tarjo dan Sarmidi kembali berseru hampir bersamaan saling menyeringai.

“Tapi Lho tetap hebat Ned!” ... “bisa menirukan suara dan gaya bos Lho!” ... seru Tarjo sambil tersenyum simpul.

“Iya Ned!” ... “lama-lama Lho bakal bisa menirukan suara burung Ned!” ... sambung Ratimin setengah meledek.

“Bisa jadi Lho bakal bisa menirukan suara monyet kawin!” ... seru Sarmidi sambil berdiri menirukan suara dan gerakan monyet sedang kawin. “Huqkh! Huqkh! Haqkh! Haqkh!” ... “Huqkh! Huqkh! Haqkh! Haqkh!”.

“kamvreeettt Lho semua!!!” ... “bubar!!!” ... “bubar!!!” ... “bubar!!!” ... seru Juned sambil melangkah menuju warung angkringan.

“Mas berapa semua?!” ... “kopi empat!” ... “tambah rokok tiga batang tadi si Tarjo ambil!” ... ***

Sastra Djingga © 2017.03.24

No comments:

Post a Comment