Thursday, March 23, 2017

Paman Damiri

Adalah Paman Damiri seorang pedagang buah berasal dari kampung Bukit Betet. Sudah sepuluh tahun berjualan berbagai macam buah. Menggunakan gerobak dorong setiap hari. Tidak tentu mangkalnya. Berjualan dimana saja yang penting tempatnya rame. Paman Damiri berjualan buah tergantung musimnya. Kadang berjualan buah semangka, kadang juga pisang. Sesekali berjualan jeruk atau mangga. Kalau harus diceritakan tentu sangat lelah memikul buah dagangan setiap hari. Ia berjalan kaki. Dari kampungnya menuju ke kota atau kampung lainnya. Paman Damiri pergi berjualan dari pagi buta hingga pulang menjelang magrib. Untung yang didapat tidak seberapa, mau dibilang apa lagi, hanya segitu kenyataannya. Kehidupan keluarga Paman Damiri memang memprihatinkan, tapi Paman Damiri tetap berusaha untuk menghidupi anak dan istrinya. Paman Damiri berjanji kepada dirinya untuk mencari rejeki dari jalan yang benar.

Apalagi Paman Damiri punya anak perempuan semata wayang yang masih sekolah di sekolah dasar. Kebutuhannya sangat banyak. Sekolah di jaman sekarang segala urusan harus serba uang. Walaupun ada program pemerintah yang mewajibkan sekolah sampai sembilan tahun. Mumpung wajib belajar. Tetapi wajib hanya tinggal wajib. Bagi orang miskin seperti Paman Damiri tetep saja sesak nafas. Pada suatu saat anaknya tidak boleh masuk sekolah karena selama tiga bulan belum membayar espepe. Paman Damiri sedih luar biasa. Uang dari mana lagi yang didapat. Hidup hanya pas-pasan. Apalagi dagang buah-buahan tidak tentu hasilnya, kadang laku kadang tidak, bisa sehari, bisa seminggu, bisa sebulan. Habis terjual.

Ya Allah ... "apa yang harus aku perbuat?" ... Anakku tidak boleh masuk sekolah. Katanya wajib belajar. "Tetapi kenyataannya bengini?" ... "Kenapa tidak ada maaf dari gurunya?" ... "Apakah sekolah itu miskin?" ... Paman Damiri hanya duduk termenung. Memikirkan nasib anaknya. Karena tidak ada lagi jalan keluar. Paman Damiri terpaksa pinjam uang. Pinjamnya kepada siapa lagi kalau bukan kepada seorang rentenir. Pinjam kepada tetangga sebelah. "Mana bisa?" ... Sama saja hidupnya dalam kesusahan. Rumah kecil satu-satunya terpaksa suratnya dijaminkan. Perjanjiannya kalau mengembalikan hutang sudah ditentukan jumlahnya lebih besar daripada uang yang dipinjam. Sudah jelas seorang rentenir jahatnya lebih gila daripada  seekor kucing garong. 

Sungguh kasihan kehidupan Paman Damiri. Hidupnya sudah pas-pasan ada tambahan beban hidup. Hutang yang harus dibayar. Seperti jatuh kemudian tertimpa tangga. Untung masih berpihak kepada diri Paman Damiri. Tidak sampai stress dalam menghadapi cobaan. Tapi Paman Damiri tetap yakin. semua cobaan pasti ada hikmahnya. Ketika memiliki hutang. Paman Damiri tambah rajin jualannya. Tiap hari berkeliling di kota. Kadang-kadang ke kampung-kampung. Berharap ada untung lebih. Maksudnya untuk membayar hutang. Hutang kepada sang kucing garong.

Dasar manusia kalau sedang sial. Segalanya menjadi berubah. Ketika Paman Damiri sedang nongkrong di suatu sudut jalan sebuah kota. Buah dagangannya belum ada yang laku satu pun. Tiba-tiba datang rombongan petugas ketertiban umum. Paman Damiri tertangkap. Kemudian buah dagangannya beserta gerobak dorongnya disita dan diangkut ke atas truk. Seketika Paman Damiri menerima sebuah keputusan dari sang pemimpin rombongan itu. Katanya buah dagangannya beserta pikulannya harus ditebus. Sekian jumlahnya. Paman Damiri hanya geleng-geleng kepala. Pikirannya bingung dan melayang. Katanya mengganggu ketertiban umum. Jangankan yang beli. Seorangpun belum ada yang lewat. Paman Damiri hanya bisa meratap. Meradang dan ingin berteriak sekuat tenaga. Paman Damiri akhirnya pulang dengan tangan hampa. Berjalan seperti orang mabok. Kadang sempoyongan. Sesekali membungkuk. Karena menahan lapar. Perutnya keroncongan. 

Tiga hari setelah kejadian tersebut. Paman Damiri punya niat ingin menebus barang dagangannya beserta gerobak dorongnya. Kebetulan masih ada sisa uang pinjaman dari sang kucing garong keparat itu. Setelah sampai di kantor ketertiban umum pemerintah setempat. "Apa yang terjadi?" ... Ternyata hanya tinggal gerobak dorongnya saja. Buah dagangannya tidak tahu kemana. Tidak tahu siapa yang makan. Paman Damiri menahan nafas. Terasa sesak di dada. Tapi harus bagaimana lagi. Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Tidak mungkin kembali menjadi beras. 

Seketika teringat pepatah kakeknya. Jangan kaget dalam menjalani hidup. Kalau sedang bahagia ya lelah menjalani bahagianya. Kalau sedang susah ya lelah menjalani susahnya. Jangan kaget. Karena manusia jaman sekarang banyak yang aneh. Kebawah saling sikut menyikut. Keatas saling jilat menjilat. Diantara itu saling pandang memandang. Nikmati saja hidup ini. Jangan ikut-ikutan mereka. Hidup penuh dengan cobaan itu wajar. Semua cobaan pasti ada hikmahnya. Semua cobaan pasti ada batasnya. Seperti kita sedang berjalan menuju ke sebuah puncak bukit. Pasti lelah. Pasti berteduh sejenak. Dan pasti banyak rintangan. Tetapi ketika telah sampai di puncak bukit itu. Akan terlihat pemandangan yang indah. Menghadapi cobaan hidup jangan sampai menjadi keruh didalam hati. Jangan sampai ada dendam membara. Siapa tahu hidup kita kelak akan kembali terang benderang. Kita hanya berusaha. Berhasil tidaknya tinggal kita serahkan kepada yang maha kuasa. Kita harus sabar dan tekun. Agar hidup tidak tambah susah. Siapa tahu dan jangan ragu.

Seketika setelah membayar uang tebusan. Gerobak dorong kosong itu diterima dengan hati yang lapang penuh dengan ketabahan. Didorongnya perlahan. Semua itu ia iklaskan. Paman Damiri hanya bisa bergumam. Ternyata banyak sekali orang yang suka makan buah-buahan. 

Sastra Djingga © 2017.03.08

No comments:

Post a Comment