Thursday, March 23, 2017

Daster Ungu

Tiga bulan kurang dua hari setelah diterima bekerja di sebuah perusahaan multi nasional sebagai asisten merketing manajer. Sanusi mendapat tugas untuk melatih para marketing muda di salah satu cabang perusahaan di Kota Makassar selama seminggu. Tidak pernah disangka bagi seorang Sanusi. Girang bukan kepalang. Ada ada tambahan cerita bagi teman-temanya. Tetangga dan keluarganya di kampung. Pergi ke Kota Makassar dan naik pesawat terbang untuk pertama kalinya. Biasanya setiap hari Sanusi hanya naik angkot nyambung naik bus kota atau mengendarai sepeda motor satu-satunya. Itu pun kalau kebetulan istrinya dinas malam di salah satu rumah sakit daerah. 

Selepas isya Sanusi baru sampai di rumahnya. Seakan tidak ada waktu lagi. Sanusi mulai menata pakaian. Semua pakaian yang menurutnya pantas untuk dipakai mulai dipisahkan. Sanusi berpikir bahwa penampilan sebagai pelatih harus keren karena akan dilihat banyak orang. Apalagi setelah melihat daftar peserta pelatihan mayoritas perserta adalah para wanita muda dengan rata-rata usia dua puluh tahunan. Sanusi tambah bersemangat dan membayangkan akan bertemu dengan banyak wanita. Seakan lupa dengan istri, Sanusi kala itu hanya membayangkan bagaimana harus bersikap dihadapan mereka. Para wanita muda yang cantik nan ceria itu.

Satu per satu pakaian yang telah dipisahkan dilipatnya dan dimasukkan kedalam koper. Koper baru yang ada rodanya dengan merk cukup terkenal dibeli dari sebuah supermarket dengan harga diskon. Supaya terlihat keren kalo di bandara membawa koper yang bisa digeret. Seperti orang-orang yang sering dilihatnya ketika akan pergi ke bandara dan naik pesawat. Pakaian yang sudah disusun dihitung kembali. Takut kalau kurang. Selama seminggu harus membawa pakaian yang cukup. Apalagi akan menginap di sebuah hotel berbintang empat. Jika harus mencuci pakaian di hotel tentu biayanya sangat mahal. 

Tidak terasa waktu telah menunjukkan jam sebelas malam. Sanusi belum juga selesai mengemas pakaian dan barang-barang yang akan dibawa. Sementara istrinya mendengkur tertidur pulas. Bongkar pasang pakaian yang akan dibawa agar cukup untuk seminggu. Sekira jam satengah satu pagi, Sanusi telah selesai mengemas barang-barang bawaannya. Sanusi perlahan berdiri dan melangkah menuju ke dapur. Direbusnya sedikit air. Cukup untuk segelas kopi. 

Sebatang rokok dihisapnya ditemani segelas kopi di teras rumah petak yang disewanya per bulan. Sanusi teringat sesuatu. Seketika beranjak menuju ke kamarnya untuk mengambil sebuah amplop berisi tiket pesawat dan kembali ke teras. Perlahan amplop itu dibuka kembali hanya untuk meyakinkan jadwal penerbangan agar tidak tertinggal pesawat. Flight: Jam 06.10 tertera jadwal penerbangan dari sebuah maskapai penerbangan terkemuka. Ada satu hal yang selalu pikirkan sejak menerima tiket pesawat itu. Tidak terlihat nomor tempat duduknya dimana. Tidak seperti naik kereta api jika pulang kampung. Nomor tempat duduknya sudah tertera didalam tiket. “Bagaimana nanti lah!” ... “bisa bertanya ke petugas di bandara!” ... pikir Sanusi.

Jam dua pagi tidak kurang dan tidak lebih, setelah pamit kepada istrinya, Sanusi dengan gagahnya bergegas sambil menggeret koper barunya. Bergaya seperti orang penting. Berjalan menuju pangkalan ojek yang tidak jauh dari rumah kontrakannya.  

“Ke Pul Damri bang!” ... “berapa?” ... seru Sanusi ke tukang ojek. 

“Dua puluh lima ribu bang!” ... jawab tukang ojeg.

“Dua puluh ribu ya!” ... Sanusi menawar.

“Mari bang!” ... jawab tukang ojek sembari bergegas menuju sepeda motornya.

“Mau pergi kemana Mas?” ... tanya tukang ojek.

“Ke Makassar bang!” ... Sanusi menjawab dengan mantap dan penuh semangat.

“Lumayaaan” ... “dapat untung dari biaya transport“ ... Sanusi bergumam dalam hati. Otak Sanusi sudah mulai kotor sejak menerima uang perjalanan dari perusahaannya. Bagaimana caranya agar mendapat sisa banyak. “Lamsam” ... berarti tidak ada pertanggungjawaban penggunaan dana. Sanusi tersenyum kecut. Apalagi sampai di Kota Makassar nanti. Dari Bandara menuju ke hotel tempat menginap bergabung dengan rombongan. Masih sisa banyak walau harus iuran untuk bayar ongkos taksi.

Sekitar jam sembilan pagi, pesawat telah mendarat di Makassar. Sanusi pun bergabung dengan rombongan. Berjalan sambil berbincang-bincang menuju tempat pengambilan bagasi. 

“Pak Rudi kemana ya?” ... sahut Ricky.

“Tadi saya lihat dia ke toilet!” ... Sanusi menimpali.

“Ooooo”... Ricky menanggapi tanpa ekspresi.

“Gue dapat ini San!” ... sauhut Ricky sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Ricky Memperlihatkan sesuatu kepada Sanusi. Kemudian dimasukkan kembali ke dalam jaketnya.

“Apaan tuh?” ... Tanya Sanusi agak kaget.

“Busyeeeet!!!” ... Sanusi agak berbisik setelah melihat bungkusan plastik bening berisi sedok, garpu dan pisau. Terlihat mengkilap.

“Lumayaaan” ... “buat kenang-kenangan pertama kali naik pesawat” ... sahut Ricky sambil menyeringai. “Buat oleh-oleh juga buat anakku” ... Ricky menambahi sambil tersenyum, alis matanya didikit digerak-gerakkan tanda meledek Sanusi yang sudah mulai dongkol.

“Kamu kok berani ambil barang seperti itu di pesawat!” ... “kalau ketahuan pramugari disuruh kembalikan!” ... “tidak kebayang nenahan malunya!” ... Sanusi menimpali sambil berbisik. 

“Yeeee kata Pak Rudi suruh dibawa!” ... “dia bilang itu barang habis pakai” ... “Pak Rudi saja ambil itu barang” ... “katanya sih buat koleksi” ... bisik Ricky dengan mantap.

“Makanya berani sekali Si Ricky ambil sesuatu dari dalam pesawat!” ... Sanusi hanya bergumam dalam hati.

“Lho kagak ambil itu barang?” ... tanya Ricky sambil mengulum senyum.

“Tidak!” ... “buat apa!” ... jawab Sanusi agak ketus.

“Emang lho kagak makan?” ... tanya Ricky sambil mengawasi bagasi yang tidak kunjung keluar.

“Jangankan ambil sendok!” ... “makan saja tidak!” ... jawab sanusi dongkol.

“Emang lho puasa?!” ... tanya Ricky memaklumi karena tahu bahwa Sanusi orangnya rajin puasa Senin – Kamis. Kebetulan hari itu hari Senin.

“Tidak juga!” ... “hanya tidak nafsu makan saja” ... sahut Sanusi jaga gengsi. Padahal perutnya sudah lapar sejak mendapat jatah sarapan di pesawat tadi. Tetapi Sanusi tidak mau menyentuhnya.

“Itu tuh tuh keluar bagasinya!” ... seru Ricky sambil menunjuk ke arah bagasi yang baru muncul.

Bagasi penumpang satu per satu sudah dikeluarkan. Sanusi matanya melotot memeriksa satu per satu bagasi yang lewat dihadapannya. Koper barunya sudah didapat. Namun tetap pikirannya bergelayut kepada sesuatu yang dibawa oleh Ricky dari dalam pesawat tadi.

“Jian ... cuoookkk!!!” ... Sanusi hanya bisa berteriak di dalam hatinya. Perasaan dongkol dan menyesal menyelimuti hati dan pikirannya. “Tahu begitu aku makan semuanya tadi!!!” ... “aku bawa pulang itu barang semuanya!!!” ... Sanusi mengerutu di dalam  hatinya. Tetapi Sanusi tetap menjaga penampilannya dihadapan teman-temannya seperti tidak terjadi sesuatu pada dirinya. 

Pada saat check in, Sanusi datang duluan di bandara Soekarno Hatta. Mumpung teman-temannya belum datang. Bergegas berjalan agak cepat sambil menggeret koper menuju salah satu petugas. Setelah bertanya kepada petugas di bandara bagaimana caranya bisa masuk ke ruang tunggu. Tidak membuang waktu lagi, segera check in lebih dulu agar terlihat oleh teman-temannya dia sudah pernah naik pesawat. Nomor tempat duduk pun Sanusi minta terpisah. Di barisan kursi paling depan kelas ekonomi tepat samping jendela. Jauh dari rombongan yang duduk di barisan belakang. 

Sekira satu jam terbang, sarapan pun mulai dihidangkan oleh pramugari. Bau aroma sedap makanan menyeruak dari kelas bisnis. Sanusi hanya bisa menelan air liur. 

“Mau makan apa Pak?” ... suara lembut sang pramugari membuyarkan lamunan Sanusi. “Nasi goreng atau nasi ayam?” ... sang pramugari bertanya lagi.
“Nasi goreng saja Mbak?” ... jawab Sanusi agak gugup.

Jatah sarapan yang diberikan oleh pramugari telah terhidang dihadapannya. Namun Sanusi tidak berani menyantap sarapan yang dipilihnya. Ditawari minum pun Sanusi menolak. Karena takut bayar. Takut akan mengurangi pendapatan sampingannya dari uang transport. Pasti mahal kalau membeli makanan atau minuman di dalam pesawat. Kata teman-temannya yang pernah naik pesawat. Sanusi menyandarkan kepalanya agak menyamping dekat jendela. Sanusi pura-pura tidur. 

Sanusi duduk terkulai di kursi loby hotel yang empuk. Membayangkan kejadian di dalam pesawat tadi pagi. Perutnya keroncongan terasa lapar dan perih. Semantara Pak Rudi sang manager marketing sekaligus sebagai ketua rombongan sibuk mengurus kamar di resepsionis hotel. Lama sekali menunggu agar bisa masuk ke kamar hotel. Jam dinding masih menunjukkan jam sepuluh pagi. Tetapi baru boleh masuk kamar jam dua siang. Pikir Sanusi bisa langsung masuk ke kamar hotel setiap saat. Ternyata ada waktunya. Tidak terpikirkan sama sekali oleh Sanusi karena baru kali ini menginap di hotel bintang empat. 

Jumpa dengan waktu yang pasti. Menapaki langkah yang sempurna. Waktu masuk kamar hotel telah tiba. Sanusi bergegas menuju kamar yang telah disiapkan. Setiap orang mendapat satu kamar. Sanusi tersenyum penuh kebanggaan bercampur rasa bahagia dan haru. Baru kali ini Sanusi mendapat perusahaan yang benar-benar telah memberikan penghargaan kepada karyawannya. Sanusi merasa tersanjung dan terpesona. Dilihatnya sekeliling kamar hotel. Begitu indah dan nyaman. Baru hari itu Sanusi merasakan sensasi selayaknya berada di sebuah tempat seperti dalam sinetron. 

Dengan rasa senang dan bahagia yang tidak kentara, Sanusi menjatuhkan badan ke atas tempat tidur yang empuk nan lembut. Direntangkan tangan dan kakinya. Sanusi menatap langit-langit kamar hotel. Putih bersih dan banyak ornamen yang tidak pernah ditemukan dirumahnya. Begitu indah dan sejuk. Sanusi pun tertidur pulas dan mendengkur. Terlalu kenyang saat makan siang. Makan siang yang telah disediakan oleh panitia di hotel disantap penuh nafsu dan murka. Tiga piring nasi dihabiskan beserta berbagai macam lauk pauk yang jarang ditemukan selama ini. Hanya sekedar untuk melunasi rasa lapar dan perih sejak pagi tadi.

Selepas magrib Sanusi baru bangun. Sanusi terperanjat dan bergegas melihat jam tangan. Waktu telah menunjukkan jam setengah tujuh malam. Sanusi perlahan bangun dari tempat tidur dan melangkah pelan menuju koper barunya. Perlahan koper dibuka hanya untuk mengambil perlengkapan mandi. Dan ... “sreeeet!” ... “sreeeet!” ... koper pun terbuka lebar. 

Betapa kagetnya Sanusi setelah melihat isi koper. “Jian ... cuoook!!! ... Wajah Sanusi merah padam. Badanya terasa panas dingin. Seluruh tubuh Sanusi bergetar hebat. Isi koper yang dilihat begitu asing baginya. Satu per satu isi koper diangkat. Sanusi tambah meradang dan dongkol. Sanusi menyeringai diiringi matanya yang berkaca-kaca. 

“Busyeeet!” ... Sanusi berseru sambil mengangkat sesuatu yang tidak asing lagi baginya. Sebuah kutang berwarna hijau muda menyala beserta pasangannya. “Kelihatannya masih baru?” seru Sanusi sambil diangkat lebih atas lagi. Lalu di ciumya kedua benda itu ... “benar masih baru!” seru Sanusi. Ternyat ada dua stel pakaian renang. Warna hijau muda dan merah muda menyala. Sanusi melanjutkan pencriannya dan menemukan sesuatu yang tidak asing pula baginya. Tiga stel daster semuanya berwarna ungu. “Lumayaaan buat oleh-oleh istriku” ... Sanusi bergumam seakan lupa akan pakaian miliknya. Sanusi masih penasaran dengan isi koper itu. Di obrak abrik semua isi koper itu. Semua berisi pakaian dan perlengkapan wanita. Sanusi menghela nafas panjang dan terduduk lemas diatas lantai karpet.

“Waduuuh!!!” ... Sanusi baru teringat pakaiannya. Tidak seperti pakaian yang berada dalam koper di hadapannya. Terlihat semua pakaian seperti masih baru. Sanusi hanya membayangkan pakaian yang ada dalam kopernya. Kalau tahu pasti akan terasa malu. Semua pakaian miliknya bukan pakaian baru lagi. Hanya masih pantas pakai. Apalagi di dalam koper itu ada enam buah slempak. Dua buah slempak masih lumayan baru, tapi tiga buah slempak sudah tidak pantas pakai karena sudah bolong di bagian pantanya. Kaos singlet putih merk pasaran malah lebih parah lagi. Semuanya sudah bolong di bagian punggungya. “Sungguh memalukan!” ... Sanusi hanya bisa meratap. 

Rupanya pada saat turun dari bus Damri di Bandara Soekarno Hatta ternyata ada yang memiliki koper sama persis, warna maupun merknya. Entah bagaimana Sanusi tidak memeriksa kembali kopernya. Setahu dia koper yang ada di dalam bagasi bus semuanya berbeda. Mungkin pada saat turun di terminal sebelumnya koper Sanusi tertukar. Padahal koper milik Sanusi dikunci gembok yang ada nomornya. Sanusi baru menyadari bahwa koper yang ada dihadapannya tidak dikunci gembok. Sanusi ambruk dan merunduk. Tidak disadari tangannya menjambak rambut yang masih acak-acakan. “Jian ... cuoook!!!” ... Sanusi kembali berteriak. Rasanya ingin menagis sekeras-kerasnya. 

Tiba-tiba ... “bruaaak!!!” ... “jedeeer!!!” ... koper menghantan meja. Sanusi menendang koper itu sekuat tenaga. Seluruh isi koper berantakan memenuhi lantai karpet. Sanusi menahan nafas yang tersenggal-senggal. Sanusi mengatupkan giginya sambil menyeringai dan memejamkan matanya. Tangannya dikepalkan keras-keras. Urat lehernya terlihat membesar seperti orang sedang bernyanyi. Sanusi bingung dan panik. Jam delapan malam acara pembukaan pelatihan akan segera dimulai. “Pantas kah bila hadir pada acara itu mengenakan daster?” ...  “Apa mau dikata?” ... “Jian ... cuoook!!!” ...

Sastra Djingga © 2017.03.17

No comments:

Post a Comment