Thursday, March 23, 2017

Misteri Rumah Kosong

Didapur rumah Pak Haji Mahdar terdengar suara sedang sibuk. Suara gaduh orang-orang yang sedang memasak. Terdengar jelas. Ada yang ngobrol sambil mengiris bawang diselingi dengan tawa dan canda. Ada juga yang sedang sibuk menggoreng. Gorengan diatas wajan dibulak balik. Sesekali air kran dihidupkan, kemudian ditutup kembali. Suara gelas dicuci terdengar sangat nyaring, kemudian disusun dengan rapi. Suara pintu dapur terdengar dibuka tutup pertanda sedang ada kesibukan. Malam itu di rumah Pak Haji Mahdar terdengar hingar bingar. 

Telinga Bi Inah berkedut, ia terbangun dari tidurnya dan kepalanya sedikit agak dimiringkan. Bi Inah berpaling ke sampingnya, terlihat suaminya Mang Jupri tertidur pulas dan mendengkur. Bi Inah perlahan mengangkat badannya, lalu ia duduk disamping suaminya yang sedang pulas. Kembali kepala Bi Inah sedikit demi sedikit dimiringkan. Telinga Bi inah di korek-korek dengan telunjuknya dan rambutnya disingkap agar jelas pendengarannya. 

Perlahan Bi Inah berdiri dan melangkah membuka pintu kamar. Bi Inah menuju ke arah dapur yang sedang ramai dan sibuk memasak. Bi inah berdiri didepan pintu dapur yang tertutup rapat. Sekali lagi rambut Bi Inah disingkapkan. Kupingnya ditempelkan ke dekat pintu dapur. Benar terdengar sedang ada orang yang sedang memasak. Terdengar begitu ramai dan sibuk. Bi Inah tetap berdiri di depan pintu dapur terpaku mendengarkan kesibukan di dapur.

“Sedang apa berdiri didepan pintu jam segini, Inaaah!!!”

Bi Inah kaget tiada tara. Seperti disambar petir. Jantungnya berdetak kencang. Seketika keringat dingin mengucur membasahi jidatnya yang jenong.

“Kesini Pak!!!” ... Bi Inah memanggil suaminya untuk mendekat dengan suara pelan. Tangan Bi Inah melabai ke arah suaminya. 

“Dengar Pak!!!” ... “Didapur ramai sekali!!! ... “Seperti ada orang yang sedang masak!!!” ... Bi Inah berbisik kepada suaminya yang dari tadi tidak mendengar suara apapun. 

“Mana!!!” ... “Tidak ada suara apa-apa!!!” ... Mang Jupri tetap pada pendiriannya. 

“Ah yang bener Pak!!!” ... Bi Inah heran. Seketika suara gaduh didapur hilang. Sunyi senyap ditelan malam. Bi Inah bergegas menarik tangan suaminya kembali menuju ke kamar tidur.

“Iya aku tidak mendengar suara didapur itu!!!” ... Mang Jupri berikeras. 

“Mimpi kamu Inah!!!” ... Mang Jupri tidak yakin dengan apa yang dialami oleh Bi Inah.

“Masa aku mimpi!!!” ... “Jelas tidak bisa tidur dari tadi!!!” ... “Berisik sekali suara gaduh di dapur tadi Pak!!!” ... Bi Inah meracau, jengkel atas kelakuan suaminya.

Semenjak ditinggal Pak Haji Mahdar tiga bulan yang lalu, rumah itu sering kosong. Bu Haji Hamidah sering dijemput anaknya yang paling tua agar tidak kesepian. Sudah dua minggu Bu Haji Hamidah ikut dengan anaknya di kota. Sebelumya, Bu Haji Hamidah menitipkan rumahnya kepada Mang Jupri. Kebetulan rumah Mang Jupri berada di belakang rumah Pak Haji Mahdar. Sudah hampir tiga puluh tahun Mang Jupri mengabdi kepada Pak Haji Mahdar. Menggarap sawah. Memelihara kambing. Menjaga kolam ikan dan pekerjaan lainnya. 

Baru tiga hari Bi Inah dan Mang Jupri menginap di rumah itu. Setiap malam Bi Inah tidak pernah tidur nyenyak. Selalu saja ada suara-suara aneh yang menurutnya menakutkan. Bukan saja suara-sura aneh yang berasal dari dapur saja, tetapi sering terdengar juga suara orang sedang mandi atau mencuci pakaian di tengah malam. Bi Inah selalu mencerikan semua kejadian yang dialami kepada suaminya. Namun Mang Jupri tetap berikukuh tidak percaya. Selama menginap di rumah itu Mang Jupri tidak pernah mendengar suara-suara aneh yang pernah diceritakan oleh istrinya.

Pagi-pagi setelah Bi Inah dan Mang Jupri membersihkan rumah majikannya. Mereka berdua bergegas pulang ke rumahnya yang ada di belakang. Seperti biasa Mang Jupri pergi ke sawah dan Bi Inah sibuk di dapur. Saat siang hari Bi Inah tidak pernah mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya selama menginap di rumah majikannya. Bi Inah sibuk dengan rutunitasnya dan melayani Mang Jupri sang suami tercinta beserta anak bungsunya yang masih sekolah di SMP.

 Hari itu Bi Inah menjalani rutinitasnya seperti tidak pernah ada kejadian yang dialaminya. Bi Inah duduk di bangku kayu tempat suaminya istirahat ketika pulang dari sawah. Satu dua teguk teh panas diminumnya sambil mencet-mencet remot kontrol televisi, mencari acara sinetron kesayangannya. Tiba-tiba Bi Inah terperanjat ... “Astagfirullah!!!” ... Bi Inah teringat Bu Maryam pemilik warung di gang sebelah. Bergegas Bi Inah berdiri, melangkah menuju kamar hanya untuk memakai jilbab. Setelah mengunci pintu, Bi Inah berjalan agak tergesa-gesa menuju warung Bu Maryam. 

Tiba-tiba begitu sampai di depan warung ... “Eeeh Bi Inah!!!” ... sapa Bu Ratna tetangga depan rumah Bu Haji Hamidah. 

“Kemana saja bu lama tidak kelihatan” ... saut Bi Inah sambil menjulurkan tangan ngajak bersalaman.

“Ada kok” ... “Setiap hari ada di rumah” ... Sambut Bu Ratna sambil menjulurkan tangan bersalaman dengan Bi Inah.

“Pasti senang ya bi” ... “Bu Haji dikunjungi anaknya, apalagi bawa cucu yang lucu-lucu” ...”Kapan datangnya Neng Tini? ... Saya tidak dengar mereka datang?” ... “Pasti Bu Haji nyuruh Bi Inah belanja kesukaannya si Neng Tini” ... “Iya kan bi?” ... Bu Ratna nyerocos tiada henti seperti burung kacer yang baru dikasih makan kroto.

Bi Inah hanya melongo. Memandang kosong wajah Bu Ratna dengan penuh perasaan kaget dan heran. “Kapan Bu?” ... “Ibu melihat mereka ada di rumah Bu Haji?” ... Bi Inah malah balik bertanya.

“Tadi malam bi!!!” ... “Rame sekali didalam rumah!!!” ... “Mereka pada ngobrol, cucu-cucunya pada bermain dan bercanda!!!” ... “Sampai jam dua malam masih ramai bi!!!” “Tapi mobilnya tidak kelihatan bi!!!” ... “Kan kalau Neng Tini pulang biasanya bawa mobil itu tuh ... yang warna hitam itu!!!” ... “Apakah mereka naik kereta ya bi?” ... Bu Ratna tambah nyerocos.  

“Tadai malam saya tidur di rumah Bu Haji ditemani suami” ... “Di rumah itu tidak ada siapa-siapa” ... “Tiga hari yang lalu Bu Haji dijemput oleh anaknya yang di Jakarta” ... “Saya sama suami dititipin rumah oleh Bu Haji” ... “Ini kuncinya!!!” ... Saut Bi Inah agak gugup.

“Ah yang bener bi!!!” ... “Bu Haji pergi ke Jakarta?” ... “Terus siapa bi yang ada dirumah?” ... “Selama tiga malam ini saya dengar rame terus didalam rumah”... saut Bu Ratna mulai gugup. Terasa bulu kuduknya merinding. Badanya terasa dingin seperti disiram es. Bi Inah hanya bisa geleng-geleng kepala sambil memandang kosong wajah Bu Ratna yang pucat pasi.

“Astagfirullah!!!” ... Bi Inah kembali terperanjat. Tujuan Bi Inah ke warung Bu Maryam bukan untuk belanja sayuran atau lainnya. Tetapi Bi Inah masih punya hutang bersas sepuluh kilo yang belum dibayar. Kebetulan sebelum Bu Haji Hamidah pergi ke Jakarta diberi uang dua ratus ribu sebagai upah menunggu rumah. 

Setelah Bu Ratna pergi, Bi Inah memikirkan cerita yang baru saja didengar dari orang lain. Namun bukan saja Bu Ratna dan Bi Inah yang sering mendengar suara-suara aneh di rumah itu, tetapi hampir semua orang di gang rumah itu pernah melihat dan mendengar sesuatu yang aneh dan menakutlkan. Semantara rumah itu sudah mulai ditawarkan akan dijual sejak sebulan yang lalu. Walaupun rumah itu akan dijual murah, tetapi belum ada satu yang berminat membeli rumah itu. 

Semenjak ditinggal Pak Haji Mahdar, rumah itu terlihat sepi. Sejak itu pula Bu Haji Hamidah sering melamun di teras rumah. Hanya sekedar untuk menghilangkan rasa sepi, sesekali Bu Haji mengajak tetangga untuk menemani kalau malam tiba jika Bi Inah berhalangan. Namun tidak ada yang mau. Mereka tahu tentang rumah itu. Mereka sering mendengar dan melihat sesuatu yang aneh dan menakutkan. Apalagi kalau sedang ditinggal pergi Bu Haji. Hanya Bi Inah dan Mang Jupri saja yang mau nunggu rumah itu karena sudah tiga puluh tahu lamanya mereka sering menginap di rumah itu.

Bi Inah mendadak pergi ke Bandung, mendapat kabar menantunya akan melahirkan anak pertama. Mang Jupri tidak ikut karena harus menemani anaknya yang masih sekolah. Selepas isya Mang Jupri bergegas menuju ke rumah Pah Haji Mahdar. Sebelumnya mengajak anaknya untuk menemaninya. Tetapi anaknya menolak karena banyak tugas dan pekerjaan rumah alasannya. Mang Jupri melangkah dengan pasti menelusuri gang kecil samping rumah Pak Haji Mahdar. 

Langkah Mang Jupri terhenti. Tepat disamping dapur rumah Pak Haji. Telinga dan kepalanya agak dimiringkan. Mang Jupri mendengar ada suara orang sedang masak. Suara centong dan wajan beradu. Song seng song seng suaranya terdengar nyaring. Tak lama kemudian terdengar suara orang mencuci piring. Trong trang trong trang suara pring beradu. Mang Jupri kaget. Teringat cerita istrinya. Teringat cerita para tetangga tentang rumah itu. “Apa betul ada kejadian seperti itu?” ... Mang Jupri hanya bergumam. Sementara suara-suara aneh didapur rumah Pak Haji masih terdengar. Bulu kuduk Mang Jupri mulai merinding menjalar ke tangannya. Lutut Mang Jupri gemetar terasa berat untuk melangkah.

Ketika tiba di depan rumah Pak Haji. Mang Jupri tambah gemetaran dan gugup. Melihat rumah Pak Haji terang benderang. Tidak tahu siapa yang menyalakan lampu. Hampir semua ruangan menyala. Mang Jupri berusaha untuk tegar dan berani. Perlahan kunci pintu ia buka. Kreeeeek ... pintu pun dibuka. Seketika Jantung Mang Jupri terasa berhenti. Nafas Mang Jupri agak tersenggal. Melihat televisi menyala. Di kamar mandi terdengar ada orang sedang mandi. Suasana terasa tambah angker. Namun Mang Jupri tetap berusaha menenangkan dirinya. Sambil membaca doa sebisanya.

Beberapa saat Mang Jupri berdiri kaku seperti patung. Pikiran Mang Jupri diselimuti macam-macam prasangka. Jangan-jangan roh Pak Haji masih gentayangan didalam rumah. Mang Jupri berniat menuju ke dapur. Sunyi senyap. Tidak terdengar lagi suara orang sedang masak dan mencuci piring. Baru saja mang Jupri melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengan suara "ceklek!!"! ... dan lampu di rumah itu mati. Gustiiiiii!!! ... “Ya Allaaah!" ... "Ya Robbiiiiii!!!” ... Mang Jupri tersentak dan ingin berteriak. Mendadak bulu kuduk Mang Jupri berdiri. "Kreeeek!!!" .... terdengar pintu kamar mandi seperti ada yang membuka. Dan ... "Blug!!!" ... terdengar suara pintu kamar mandi ada yang menutup. Jantung Mang Jupri berdetak kencang tidak karuan ... "dag dig dug" ...  "dag dig dug" ... seperti suara beduk. Mang Jupri hanya bisa bersandar sambil berdiri kaku di dinding rumah. Ruangan gelap gulita. Tubuh Mang Jupri gemetar hebat. Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya.

"Maaang!!!" ... Ada suara dari samping Mang Jupri. “Mang Jupri sedang apa disini?!!!” ... Mang Jupri tambah gugup. Nafasnya tidak beraturan. Jantungnya berdetak keras. Suara yang terdengar tidak asing lagi bagi seorang Mang Jupri. Suara Pak Haji Mahdar. Terdengar jelas dan nyaring. Mang Jupri tambah lemas dan gugup. Tiba-tiba ... "Gedebuk!!!" ... Tubuh Mang Jupri menghantam lantai. Mang Jupri Pingsan. Tidak ingat lagi bumi, langit dan segala isinya.

Lampu rumah telah menyala kembali. Rupanya kapasitas listrik di rumah itu tidak kuat menahan beban dan anjlok. Den Mahmud dan istrinya hanya bengong dan bingung melihat Mang Jupri tergeletak di lantai.

"Buuun!!!" ... “Ini Mang Jupri kenapa pingsan?!!!”  ... Den Mahmud bingung.

"Iya Yah!!!" ... "Mana?!!!" ... saut istri Den Mahmud.

“Ini lihat disini!!! ... saut Den Mahmud.

“Astagfirullah Hal Adziiiiiim!!!!" ... “Maaang bangun Maaang!!!” ... Istri Den Mahmud merengkuh dan menggoyang-goyang tubuh Mang Jupri.

Den Mahmud dan istrinya adalah anak bungsu yang baru menikah lima bulan lalu. Mereka mendapat tugas dari ibunya untuk mengambilkan pakean dan obat ibunya yang tertinggal. Ibunya memberikan kunci serep rumah. Karena kembali ke Jakarta sudah terlalu sore, mereka berdua memutuskan untuk menginap semalam. 

Mang Jupri telah siuman dan sadar kembali. Mang Jupri hanya bisa mengedipkan mata. Seluruh badannya terasa lemas. Teringat cerita istrinya dan para tetangganya. Teringat ada orang memasak didapur. Teringat ada orang mandi. Teringat lampu menyala dan mati sendiri. Mang Jupri terkulai lemas tidak berdaya.

Sastra Djingga © 2017.03.12

No comments:

Post a Comment