Friday, March 24, 2017

Pangkalan Ojek

Disudut ruangan sempit sebuah kantor pemasaran, nampak seorang pria setengah baya sedang berkemas barang bawaannya. Adalah Ratimin seorang office boy yang selalu setia melayani semua karyawan yang ada di kantor itu. Hanya sekedar membuatkan minum atau membelikan makan siang, Ratimin tidak pernah menolak. Imbalan pun ia tak pernah minta. Setelah selesai berkemas, Ratimin duduk di sudut ruangan sempit. Ia berharap semua karyawan pulang tepat waktu, tidak ada yang terlambat. Suatu hal yang paling menyebalkan bagi seorang Ratimin, bila ada karyawan yang pulang terlambat dengan alasan lembur atau kejar target. Artinya ia harus pulang terlambat karena harus membersihkan ruangan kantor.  

Dalam perjalanan pulang Ratimin melamun. Pikirannya melayang. Bagaimana mencari uang tambahan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Gaji sebgai office boy tidak seberapa. Hanya cukup untuk makan sebulan. Untuk menutupi biaya lainnya biasanya Ratimin mangkal di pangkalan ojek tidak jauh dari rumahnya. Sepulang kerja atau pada hari sabtu dan minggu. Ratimin banting tulang mencari tambahan penghasilan sebagai tukang ojek. Semakin hari penumpang ojek semakin berkurang. Penghasilan Ratimin pun jelas berkurang. Tidak sanggup lagi menutupi kebutuhannya. Ratimin pun gelisah dan bingung. 

“Hhhhkkkkkkhhh ... !!!” ... “huuuaaaaaahhhhhh ...!!!” ... Ratimin menggeliat sambil menguap. 

“Sudah pulang Yah!” ... “Kok tumben masih siang! ... ”  ... seru istri Ratimin menyambut sang suami tercinta.

“Masih siang dari Hong Kong!” ... “sudah malam tahu!” ... Seru Ratimin meyela.

“Biasanya setelah isya baru sampai!” ... seru istrinya.

“Kebetulan saja tidak ada yang lembur di kantor” ... “jadi bisa pulang cepat” ... sambung Ratimin sambil bergegas melepaskan pakaiannya dan mencuci muka. Hanya untuk menyingkirkan sedikit debu dan keringat yang menepel di wajahnya.

“Mana kopinya Bun!” ... seru Ratimin sambil merentangkan badan diatas karpet lusuhnya.

“Sabar” ... “kan belum mendidih airnya” ... seru istrinya sambil menuangkan kopi instan ke dalam gelas.

“Anak-anak pada kemana?!” ... seru Ratimin baru teringat anak-anaknya.

“Mereka sedang mengaji di mesjid gang sebelah” ... sambung istrinya.

Ratimin menikmati segelas kopi panas sambil menghisap sebatang rokok. Sementara istrinya menyiapkan makan malam untuk sang suami tercinta. Menu sederhana tapi sungguh mengenyangkan. Mie instan rebus ditumpangi sebutir telur ayam dan sepiring nasi. Ratimin menyantap lahap hidangan makan malam yang disediakan istrinya. Seperti orang yang sedang kelaparan. Terasa gurih dan nikmat. Seakan lupa dunia dan akhirat. Rasa lapar sejak sore tadi telah terobati. Ratimin bersandar di dinding dan menjulurkan kakinya sambil merokok. 

Sebatang rokok telah usai dihisapnya. Ratimin bergegas menuju pangkalan ojek. Malam itu pangkalan ojek terlihat sepi. Hanya ada dua rekannya yang sedang menunggu penumpang. Tarjo dan Sarmidi terlihat sedang duduk sambil menghisap rokok. Ratimin menyandarkan sepeda motornya dan bergabung. Mereka bercengkrama sambil menunggu penumpang nyasar. Malam pun semakin larut. Ratimin dan kedua rekannya belum juga dapat penumpang. Mereka saling berkeluh kesah mencaritakan keadaannya masing-masing. 

“Halow Bang!!!” ... ”gud moning epribadi!!!” ... seru seseorang mengagetkan mereka bertiga yang sedang ngobrol.

“Gud moning gundulmu!!!” ... “gud nait bego!!! ... seru Tarjo yang mengenal sosok kurus kerempeng. Tidak lain dan tidak bukan adalah Juned yang tidak asing lagi baginya. 

“Baru pulang Lho!” ... seru Sarmidi sambil mengisap rokoknya penuh nikmat.

“Iya Bang!” ... “kebetulan dapet sip sore” ... sahut Juned yang bekerja di sebuah toko swalayan sebagai kasir. 

“Duduk dulu disini!” ... “ngapain pulang cepet!” ... “bujangan ... negara masih aman Ned!” ... seru Tarjo sambil bergeser agar Juned duduk di sebelahnya.

“Iya ngapain pulang juga!” ... “paling coli!” ... sambung Sarmidi sedikit meledek.

“Sembarangan!!!” ... seru Juned sambil melangkah duduk disamping Tarjo. Tampak raut mukanya agak memerah. 

“Sar!” ... “mau kemana Lho!” ... tanya Juned melihat Sarmidi yang tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.

“Bentar pesan kopi dulu di warung sebelah!” ... “biar seru ngobrolnya!” ... sahut Sarmidi.

“Mas kopi empat ya!!!” ... “ntar yang bayar si Juned tuh!!!” ... seru Sarmidi setengah berteriak minta kopi kepada penjual kopi angkringan.

“Busyeeettt Lho!!!” ... sontak Juned menimpali setengah berteriak.

“Sekali-kali traktir kami Ned!” ... “kan Lho habis gajian!” ... sahut Sarmidi sambil menghampiri dan menyeringai penuh makna. Diikuti tawa Tarjo dan Ratimin ... “ha ha ha ha ha!!!”.

Kopi Panas telah terhidang dihadapan mereka. Menebar bau harum khas kopi instan kemasan. Suasana makin menyenangkan dan bergairah. Mereka pun bercengkrama hingga larut malam. Bercerita tentang pengalamannya masing-masing. Kadang mereka menceritakan tentang teman-temannya yang congkak. Kadang mereka bercerita tentang hantu yang sering mengganggu di kampungnya. Pokoknya malam itu bagi mereka adalah malam yang penuh dengan tawa dan canda. Bahagia dan senang diiringi hembusan angin malam yang terasa sejuk bagi mereka. Seakan lupa dengan masalah yang mereka sedang hadapi ... Sejenak mereka saling terdiam dan hening.

“Jo ... !” ... Ratimin membuka topik baru.

“Iya Min ... !” ... “Kok serius banget sih Lho!” ... sahut Tarjo sedikit heran melihat perubahan wajah Ratimin yang tiba-tiba murung.

“Ada masalah Lho Min?!” ... tanya Tarjo. Sementara Sarmidi dan Juned hanya memandang Ratimin penuh tanda tanya.

“Kagak juga sih!” ... “hanya heran saja!” ... “makin hari penumpang makin jarang!” ... “penumpang nyasar pun kagak ada!” ... “sampai detik ini penumpang kagak ada yang nongol!” ... keluh Ratimin sambil menghela nafas.

“Pasti lah berkurang!” ... “Elho kurang respon!” ... seru Juned langsung tembak saja.

“Kurang respon gemana Ned?! ... seru Ratimin penuh tanda tanya.

“Elho perhatiin kagak?!” ... “di jalanan sekarang banyak sepeda motor!” ... “orangnya pake jaket hijau ... helm hijau!” ... seru Juned penuh semangat.

“Iya sih sering lihat” ... “katanya ojek onlen” ... “emang kenapa sih Ned?! ... sambung Ratimin ... Tarjo dan Sarmidi hanya manggut-manggut.

“Yeee!!!” ... ‘Elho kagak paham juga Min!” ... “sudah jelas orang-orang sekarang banyak pilih ojek onlen!” ... “harganya lebih murah!” ... “bisa jemput penumpang lagi!” ... “kagak kayak Elho-Elho bisanya hanya nunggu penumpang!” ... seru Juned berapi-api karena sudah lama Juned menyimpan unek-unek sejak kehadiran ojek online.

“Ooo ... gituuu!” ... Ratimin, Tarjo dan Sarmidi menimpali hampir bersamaan.

“Bener juga sih!” ... “pantesan penumpang terus berkurang!” ... sahut Sarmidi baru paham masalahnya.

“Gue sudah tebak masalahnya!” ... Seru Tarjo tambah yakin.

“Sekarang bagaimana jalan keluarnya?!” ... tanya Ratimin putus asa.

“Begini saja Min!” ... “Coba Elho daftar dulu deh ikutan ojek onlen!” ... “nanti kalo Elho sudah ikutan dan sukses!” ... “Gue sama Sarmidi ikut daftar juga!” ... “gemana?!” ...  seru Tarjo melontarkan ide kepada Ratimin.

“Wahhh!” ... “Gue kagak ngarti caranya!” ... seru Ratimin putus asa.

“Jangan putus asa dulu Min!” ... “tanya dulu syarat-syaratnya!” ... “katanya sih gampang!” ... sambung Tarjo penuh asa.

“Tapi ...!“ ... “Gue takut!” ... “Natar Gue digebukin tukang ojek di pangkalan lain!” ... seru Ratimin tambah putus asa. Ia pernah mendengar keributan yang sering terjadi selama ini antara ojek online dengan taksi, ... dengan bajay, ... dengan angkot. Gara-gara rebutan penumpang. Hanya satu saja yang ia belum pernah dengar, yaitu keributan antara ojek online dengan busway. 

Juned yang dari tadi mengantuk sambil mendengarkan obrolan mereka mulai tergugah. Ia merasa sudah saatnya mengeluarkan semua unek-uneknya tentang ojek online. Ia merasa prihatin dengan kaadaan sekarang ini. Tetapi tidak bisa berbuat banyak. Hatinya membara bak arang terbakar. Otaknya terasa mendidih dan panas mendekati seratus dua puluh lima derajat celcius. Rasa kantuknya hilang seketika setelah mendengar obrolan tadi. 

“Begini teman-teman!!!” ... seru Juned berhenti sejenak sambil menghela nafas dan menelan ludah.

“Munculnya ojek onlen adalah tiba-tiba!” ... “mereka datang seperti angin!” ... “mereka datang dari berbagai arah!” ... “yang pada akhirnya saling bertemu dan beradu!” ... “berputar seperti puting beliung!”  ... “mereka merampas penumpang milik orang lain!” ... “mereka tak pernah peduli karena sangat menguntungkan!” ... “lapangan kerja baru pun terbuka lebar!” ... “sebuah jalan keluar yang sangat cerdas!” ... “berkat kemajuan teknologi!” ... “namun diantara itu!” ... “banyak pihak yang merasa menjadi korban!” ... “lahan mereka semakin menyempit!” ...”sementara tuntutan semakin melebar dan luas!” ... “adakah keadilan disini?!” ... “adakah kebijakan yang bisa mengatur?!” ... “ supaya adil dan merata!” ... “sementara kebayakan orang sedang menikmati kecanggihan teknologi!” ... “kemajuan teknologi tidak mungkin berhenti” ... “kemajuan teknologi melaju seiring dengan zaman!” ... “siap kah kita untuk menerimanya?!” ... “bisa kah kita untuk menentangnya?!” ... Juned berseru dengan semangat empat lima bak pejuang kemerdekaan. Puitis namun lebay. 

“Elho ngomong apaan Ned!!!” ... “Kagak ngarti Gue mah!” ... seru Sarmidi bingung.

“Iya Ned!” ... “ngomong saja yang jelas!” ... sambung Tarjo sambil melirik ke arah Ratimin yang dari tadi bengong mendengar ucapan Juned.

“Begini teman-teman!!!” ... seru Juned kembali berhenti sejenak sambil menghela nafas dan menelan ludah.

“Angkot, bajay, taksi sampai baswey ongkosnya sudah ada yang mengatur!” ... “organisasi perusahaannya juga jelas!” ... “sementara taksi dan ojek onlen, mereka buat aturan sendiri!” ... “ perusahaannya masih dipertanyakan!“ ... “ongkosnya lebih murah dari angkutan konvensional yang ada sekarang ini!” ... “sama seperti ojek yang biasa mangkal!” ... “tidak ada aturan baku!” ... “bedanya antara ojek onlen dengan ojek biasa adalah” ... “kalau ojek onlen kagak bisa ditawar!” ... “kalau ojek biasa bisa ditawar!” ... Juned berhenti sejenak sambil meraih gelas kopi yang hampir habis. Diminumya kopi sampai habis. Satu batang rokok sudah menggantung di mulutnya. Dinyalakan dan dihisap perlahan. Juned melanjutkan pembicaraannya.

“Sekarang kalian semua harus tahu masalahnya!” ... “kenapa mereka selalu ribut?!” ... “bahkan sampai ada korban segala!” ... “hanya untuk memperebutkan sepiring nasi!” ... “karena semua pihak tidak ada yang siap!” ... “dari pihak pemerintah belum bisa mengatur!” ... “dari pihak angkutan konvensional tidak siap dengan teknologinya, yang notabene mereka pada umumnya adalah kaum marjinal!” ... “dari pihak taksi dan ojek onlen belum siap menerima regulasinya!” ... “karena regulasi yang mengatur taksi dan ojek onlen baru-baru ini saja dikeluarkan!” ... “mereka protes karena ongkosnya jadi lebih mahal!” ... seru Juned menjelaskan argumentasinya penuh diplomasi seperti seorang pakar yang sedang bicara di televisi.

Ratimin, Tarjo dan Sarmidi hanya bisa bengong saja mendengarkan penjelasan Juned yang begitu diplomatis. Tetapi sesungguhnya mereka sedikit telah mengerti namun tetap bingung. Bingung dengan jargon-jargonnya yang dilontarka oleh Juned. Seperti orang yang sedang orasi pada saat demonstrasi. Mereka juga berpikir keras untuk menyambungkan arti kata dari jargon-jargon itu. Tetapi tetap saja mereka tidak menegerti.

“Ned!” ... “Elho ngomong apa lagi tadi?!” ... “konvensional, regulasi, notabene, kaum marjinal!” ... “Gue pengen tahu artinya!” ... tanya Tarjo sambil garuk-garuk kepala.

“Iya Ned!” ... “tolong jelasin dong!” ... sambung Sarmidi penasaran.

“Ooo ... itu!” ... saut Juned sambil berpikir sejenak.

“Konvensional itu ... jadul ... jaman dulu ... atau kuno!” ... “regulasi itu ... aturan kalo tidak salah!” ... “notabene itu ... catatan bini kalee ... bisa jadi ... latar belakang!” ...  “kalo kaum marjinal itu ... jelas kayak kita sekarang ini ... orang miskin!” ...jawab  Juned menjelaskan sebisanya.

“Ooo ... begitu!” ... Ratimin, Tarjo dan Sarmidi berseru hampir bersamaan sambil mengangguk-angguk kepalanya masing-masing tanda sudah mengerti.

“Hebat Lho Ned!” ... “Kagak nyangka!” ... “ternyata Lho kadang-kadang pinter!” ... “Gue demen deh punya teman kayak Elho!” ... seru Tarjo merasa bangga punya seorang teman yang memiliki wawasan luas. Sementara Ratimin dan Sarmidi hanya menyeringai sambil mengacungkan kedua jempolnya.

“Ah Elho!” ...  “bisa aja!” ... saut Juned merasa tersanjung dan ge er. Nampak lobang hidung Juned terlihat sedikit membesar mendapat pujian dari teman-temannya.

“Elho belajar dimana Ned?!” ... “perasaan Lho kuliah saja kagak tamat?!” ... tanya Sarmidi penuh selidik.

“Iya Ned!” ... “semenjak Lho kerja banyak sekali perubahan!” ... sambung Ratimin dengan bangga.

“Kalo kalian pengen tahu” ... “begini ceritanya!” ... saut Juned bersemangat.

“Gemana Ned?!” ... “coba ceritakan biar kita semua jadi orang pinter kayak Elho!” ... Sambung Sarmidi penasaran.

“Gue tadi sebelum pulang kerja ada rapat dengan supervisor” ... “biasa kalo bos datang selalu memberikan pengarahan tentang pekerjaan” ... “kagak lama sih pengarahannya” ... “paling kagak sampe setengah jam” ... “yang lama itu ngobrolnya” ... “kalo beliau sudah datang jangan sekali-kali membuka topik pembicaraan” ... “pasti melebar kemana-mana” ... “tadi temen Gue ada yang basa basi” ... “bener deh melebar obrolannya” ... “sampe nyeritain tentang ojek onlen itu” ... “Gue mah hanya denger saja kagak ikut-ikutan” ... “nah ...” ... “yang tadi Gue omongin sama Elho-Elho semua adalah omongannya bos gue!” ... “gaya bicaranya kaya Gue tadi!” ... Juned menjelaskan pengalaman mendapat pengetahuannya.

“Ooo ... begitu!” ... Ratimin, Tarjo dan Sarmidi kembali berseru hampir bersamaan saling menyeringai.

“Tapi Lho tetap hebat Ned!” ... “bisa menirukan suara dan gaya bos Lho!” ... seru Tarjo sambil tersenyum simpul.

“Iya Ned!” ... “lama-lama Lho bakal bisa menirukan suara burung Ned!” ... sambung Ratimin setengah meledek.

“Bisa jadi Lho bakal bisa menirukan suara monyet kawin!” ... seru Sarmidi sambil berdiri menirukan suara dan gerakan monyet sedang kawin. “Huqkh! Huqkh! Haqkh! Haqkh!” ... “Huqkh! Huqkh! Haqkh! Haqkh!”.

“kamvreeettt Lho semua!!!” ... “bubar!!!” ... “bubar!!!” ... “bubar!!!” ... seru Juned sambil melangkah menuju warung angkringan.

“Mas berapa semua?!” ... “kopi empat!” ... “tambah rokok tiga batang tadi si Tarjo ambil!” ... ***

Sastra Djingga © 2017.03.24

Thursday, March 23, 2017

Daster Ungu

Tiga bulan kurang dua hari setelah diterima bekerja di sebuah perusahaan multi nasional sebagai asisten merketing manajer. Sanusi mendapat tugas untuk melatih para marketing muda di salah satu cabang perusahaan di Kota Makassar selama seminggu. Tidak pernah disangka bagi seorang Sanusi. Girang bukan kepalang. Ada ada tambahan cerita bagi teman-temanya. Tetangga dan keluarganya di kampung. Pergi ke Kota Makassar dan naik pesawat terbang untuk pertama kalinya. Biasanya setiap hari Sanusi hanya naik angkot nyambung naik bus kota atau mengendarai sepeda motor satu-satunya. Itu pun kalau kebetulan istrinya dinas malam di salah satu rumah sakit daerah. 

Selepas isya Sanusi baru sampai di rumahnya. Seakan tidak ada waktu lagi. Sanusi mulai menata pakaian. Semua pakaian yang menurutnya pantas untuk dipakai mulai dipisahkan. Sanusi berpikir bahwa penampilan sebagai pelatih harus keren karena akan dilihat banyak orang. Apalagi setelah melihat daftar peserta pelatihan mayoritas perserta adalah para wanita muda dengan rata-rata usia dua puluh tahunan. Sanusi tambah bersemangat dan membayangkan akan bertemu dengan banyak wanita. Seakan lupa dengan istri, Sanusi kala itu hanya membayangkan bagaimana harus bersikap dihadapan mereka. Para wanita muda yang cantik nan ceria itu.

Satu per satu pakaian yang telah dipisahkan dilipatnya dan dimasukkan kedalam koper. Koper baru yang ada rodanya dengan merk cukup terkenal dibeli dari sebuah supermarket dengan harga diskon. Supaya terlihat keren kalo di bandara membawa koper yang bisa digeret. Seperti orang-orang yang sering dilihatnya ketika akan pergi ke bandara dan naik pesawat. Pakaian yang sudah disusun dihitung kembali. Takut kalau kurang. Selama seminggu harus membawa pakaian yang cukup. Apalagi akan menginap di sebuah hotel berbintang empat. Jika harus mencuci pakaian di hotel tentu biayanya sangat mahal. 

Tidak terasa waktu telah menunjukkan jam sebelas malam. Sanusi belum juga selesai mengemas pakaian dan barang-barang yang akan dibawa. Sementara istrinya mendengkur tertidur pulas. Bongkar pasang pakaian yang akan dibawa agar cukup untuk seminggu. Sekira jam satengah satu pagi, Sanusi telah selesai mengemas barang-barang bawaannya. Sanusi perlahan berdiri dan melangkah menuju ke dapur. Direbusnya sedikit air. Cukup untuk segelas kopi. 

Sebatang rokok dihisapnya ditemani segelas kopi di teras rumah petak yang disewanya per bulan. Sanusi teringat sesuatu. Seketika beranjak menuju ke kamarnya untuk mengambil sebuah amplop berisi tiket pesawat dan kembali ke teras. Perlahan amplop itu dibuka kembali hanya untuk meyakinkan jadwal penerbangan agar tidak tertinggal pesawat. Flight: Jam 06.10 tertera jadwal penerbangan dari sebuah maskapai penerbangan terkemuka. Ada satu hal yang selalu pikirkan sejak menerima tiket pesawat itu. Tidak terlihat nomor tempat duduknya dimana. Tidak seperti naik kereta api jika pulang kampung. Nomor tempat duduknya sudah tertera didalam tiket. “Bagaimana nanti lah!” ... “bisa bertanya ke petugas di bandara!” ... pikir Sanusi.

Jam dua pagi tidak kurang dan tidak lebih, setelah pamit kepada istrinya, Sanusi dengan gagahnya bergegas sambil menggeret koper barunya. Bergaya seperti orang penting. Berjalan menuju pangkalan ojek yang tidak jauh dari rumah kontrakannya.  

“Ke Pul Damri bang!” ... “berapa?” ... seru Sanusi ke tukang ojek. 

“Dua puluh lima ribu bang!” ... jawab tukang ojeg.

“Dua puluh ribu ya!” ... Sanusi menawar.

“Mari bang!” ... jawab tukang ojek sembari bergegas menuju sepeda motornya.

“Mau pergi kemana Mas?” ... tanya tukang ojek.

“Ke Makassar bang!” ... Sanusi menjawab dengan mantap dan penuh semangat.

“Lumayaaan” ... “dapat untung dari biaya transport“ ... Sanusi bergumam dalam hati. Otak Sanusi sudah mulai kotor sejak menerima uang perjalanan dari perusahaannya. Bagaimana caranya agar mendapat sisa banyak. “Lamsam” ... berarti tidak ada pertanggungjawaban penggunaan dana. Sanusi tersenyum kecut. Apalagi sampai di Kota Makassar nanti. Dari Bandara menuju ke hotel tempat menginap bergabung dengan rombongan. Masih sisa banyak walau harus iuran untuk bayar ongkos taksi.

Sekitar jam sembilan pagi, pesawat telah mendarat di Makassar. Sanusi pun bergabung dengan rombongan. Berjalan sambil berbincang-bincang menuju tempat pengambilan bagasi. 

“Pak Rudi kemana ya?” ... sahut Ricky.

“Tadi saya lihat dia ke toilet!” ... Sanusi menimpali.

“Ooooo”... Ricky menanggapi tanpa ekspresi.

“Gue dapat ini San!” ... sauhut Ricky sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. Ricky Memperlihatkan sesuatu kepada Sanusi. Kemudian dimasukkan kembali ke dalam jaketnya.

“Apaan tuh?” ... Tanya Sanusi agak kaget.

“Busyeeeet!!!” ... Sanusi agak berbisik setelah melihat bungkusan plastik bening berisi sedok, garpu dan pisau. Terlihat mengkilap.

“Lumayaaan” ... “buat kenang-kenangan pertama kali naik pesawat” ... sahut Ricky sambil menyeringai. “Buat oleh-oleh juga buat anakku” ... Ricky menambahi sambil tersenyum, alis matanya didikit digerak-gerakkan tanda meledek Sanusi yang sudah mulai dongkol.

“Kamu kok berani ambil barang seperti itu di pesawat!” ... “kalau ketahuan pramugari disuruh kembalikan!” ... “tidak kebayang nenahan malunya!” ... Sanusi menimpali sambil berbisik. 

“Yeeee kata Pak Rudi suruh dibawa!” ... “dia bilang itu barang habis pakai” ... “Pak Rudi saja ambil itu barang” ... “katanya sih buat koleksi” ... bisik Ricky dengan mantap.

“Makanya berani sekali Si Ricky ambil sesuatu dari dalam pesawat!” ... Sanusi hanya bergumam dalam hati.

“Lho kagak ambil itu barang?” ... tanya Ricky sambil mengulum senyum.

“Tidak!” ... “buat apa!” ... jawab Sanusi agak ketus.

“Emang lho kagak makan?” ... tanya Ricky sambil mengawasi bagasi yang tidak kunjung keluar.

“Jangankan ambil sendok!” ... “makan saja tidak!” ... jawab sanusi dongkol.

“Emang lho puasa?!” ... tanya Ricky memaklumi karena tahu bahwa Sanusi orangnya rajin puasa Senin – Kamis. Kebetulan hari itu hari Senin.

“Tidak juga!” ... “hanya tidak nafsu makan saja” ... sahut Sanusi jaga gengsi. Padahal perutnya sudah lapar sejak mendapat jatah sarapan di pesawat tadi. Tetapi Sanusi tidak mau menyentuhnya.

“Itu tuh tuh keluar bagasinya!” ... seru Ricky sambil menunjuk ke arah bagasi yang baru muncul.

Bagasi penumpang satu per satu sudah dikeluarkan. Sanusi matanya melotot memeriksa satu per satu bagasi yang lewat dihadapannya. Koper barunya sudah didapat. Namun tetap pikirannya bergelayut kepada sesuatu yang dibawa oleh Ricky dari dalam pesawat tadi.

“Jian ... cuoookkk!!!” ... Sanusi hanya bisa berteriak di dalam hatinya. Perasaan dongkol dan menyesal menyelimuti hati dan pikirannya. “Tahu begitu aku makan semuanya tadi!!!” ... “aku bawa pulang itu barang semuanya!!!” ... Sanusi mengerutu di dalam  hatinya. Tetapi Sanusi tetap menjaga penampilannya dihadapan teman-temannya seperti tidak terjadi sesuatu pada dirinya. 

Pada saat check in, Sanusi datang duluan di bandara Soekarno Hatta. Mumpung teman-temannya belum datang. Bergegas berjalan agak cepat sambil menggeret koper menuju salah satu petugas. Setelah bertanya kepada petugas di bandara bagaimana caranya bisa masuk ke ruang tunggu. Tidak membuang waktu lagi, segera check in lebih dulu agar terlihat oleh teman-temannya dia sudah pernah naik pesawat. Nomor tempat duduk pun Sanusi minta terpisah. Di barisan kursi paling depan kelas ekonomi tepat samping jendela. Jauh dari rombongan yang duduk di barisan belakang. 

Sekira satu jam terbang, sarapan pun mulai dihidangkan oleh pramugari. Bau aroma sedap makanan menyeruak dari kelas bisnis. Sanusi hanya bisa menelan air liur. 

“Mau makan apa Pak?” ... suara lembut sang pramugari membuyarkan lamunan Sanusi. “Nasi goreng atau nasi ayam?” ... sang pramugari bertanya lagi.
“Nasi goreng saja Mbak?” ... jawab Sanusi agak gugup.

Jatah sarapan yang diberikan oleh pramugari telah terhidang dihadapannya. Namun Sanusi tidak berani menyantap sarapan yang dipilihnya. Ditawari minum pun Sanusi menolak. Karena takut bayar. Takut akan mengurangi pendapatan sampingannya dari uang transport. Pasti mahal kalau membeli makanan atau minuman di dalam pesawat. Kata teman-temannya yang pernah naik pesawat. Sanusi menyandarkan kepalanya agak menyamping dekat jendela. Sanusi pura-pura tidur. 

Sanusi duduk terkulai di kursi loby hotel yang empuk. Membayangkan kejadian di dalam pesawat tadi pagi. Perutnya keroncongan terasa lapar dan perih. Semantara Pak Rudi sang manager marketing sekaligus sebagai ketua rombongan sibuk mengurus kamar di resepsionis hotel. Lama sekali menunggu agar bisa masuk ke kamar hotel. Jam dinding masih menunjukkan jam sepuluh pagi. Tetapi baru boleh masuk kamar jam dua siang. Pikir Sanusi bisa langsung masuk ke kamar hotel setiap saat. Ternyata ada waktunya. Tidak terpikirkan sama sekali oleh Sanusi karena baru kali ini menginap di hotel bintang empat. 

Jumpa dengan waktu yang pasti. Menapaki langkah yang sempurna. Waktu masuk kamar hotel telah tiba. Sanusi bergegas menuju kamar yang telah disiapkan. Setiap orang mendapat satu kamar. Sanusi tersenyum penuh kebanggaan bercampur rasa bahagia dan haru. Baru kali ini Sanusi mendapat perusahaan yang benar-benar telah memberikan penghargaan kepada karyawannya. Sanusi merasa tersanjung dan terpesona. Dilihatnya sekeliling kamar hotel. Begitu indah dan nyaman. Baru hari itu Sanusi merasakan sensasi selayaknya berada di sebuah tempat seperti dalam sinetron. 

Dengan rasa senang dan bahagia yang tidak kentara, Sanusi menjatuhkan badan ke atas tempat tidur yang empuk nan lembut. Direntangkan tangan dan kakinya. Sanusi menatap langit-langit kamar hotel. Putih bersih dan banyak ornamen yang tidak pernah ditemukan dirumahnya. Begitu indah dan sejuk. Sanusi pun tertidur pulas dan mendengkur. Terlalu kenyang saat makan siang. Makan siang yang telah disediakan oleh panitia di hotel disantap penuh nafsu dan murka. Tiga piring nasi dihabiskan beserta berbagai macam lauk pauk yang jarang ditemukan selama ini. Hanya sekedar untuk melunasi rasa lapar dan perih sejak pagi tadi.

Selepas magrib Sanusi baru bangun. Sanusi terperanjat dan bergegas melihat jam tangan. Waktu telah menunjukkan jam setengah tujuh malam. Sanusi perlahan bangun dari tempat tidur dan melangkah pelan menuju koper barunya. Perlahan koper dibuka hanya untuk mengambil perlengkapan mandi. Dan ... “sreeeet!” ... “sreeeet!” ... koper pun terbuka lebar. 

Betapa kagetnya Sanusi setelah melihat isi koper. “Jian ... cuoook!!! ... Wajah Sanusi merah padam. Badanya terasa panas dingin. Seluruh tubuh Sanusi bergetar hebat. Isi koper yang dilihat begitu asing baginya. Satu per satu isi koper diangkat. Sanusi tambah meradang dan dongkol. Sanusi menyeringai diiringi matanya yang berkaca-kaca. 

“Busyeeet!” ... Sanusi berseru sambil mengangkat sesuatu yang tidak asing lagi baginya. Sebuah kutang berwarna hijau muda menyala beserta pasangannya. “Kelihatannya masih baru?” seru Sanusi sambil diangkat lebih atas lagi. Lalu di ciumya kedua benda itu ... “benar masih baru!” seru Sanusi. Ternyat ada dua stel pakaian renang. Warna hijau muda dan merah muda menyala. Sanusi melanjutkan pencriannya dan menemukan sesuatu yang tidak asing pula baginya. Tiga stel daster semuanya berwarna ungu. “Lumayaaan buat oleh-oleh istriku” ... Sanusi bergumam seakan lupa akan pakaian miliknya. Sanusi masih penasaran dengan isi koper itu. Di obrak abrik semua isi koper itu. Semua berisi pakaian dan perlengkapan wanita. Sanusi menghela nafas panjang dan terduduk lemas diatas lantai karpet.

“Waduuuh!!!” ... Sanusi baru teringat pakaiannya. Tidak seperti pakaian yang berada dalam koper di hadapannya. Terlihat semua pakaian seperti masih baru. Sanusi hanya membayangkan pakaian yang ada dalam kopernya. Kalau tahu pasti akan terasa malu. Semua pakaian miliknya bukan pakaian baru lagi. Hanya masih pantas pakai. Apalagi di dalam koper itu ada enam buah slempak. Dua buah slempak masih lumayan baru, tapi tiga buah slempak sudah tidak pantas pakai karena sudah bolong di bagian pantanya. Kaos singlet putih merk pasaran malah lebih parah lagi. Semuanya sudah bolong di bagian punggungya. “Sungguh memalukan!” ... Sanusi hanya bisa meratap. 

Rupanya pada saat turun dari bus Damri di Bandara Soekarno Hatta ternyata ada yang memiliki koper sama persis, warna maupun merknya. Entah bagaimana Sanusi tidak memeriksa kembali kopernya. Setahu dia koper yang ada di dalam bagasi bus semuanya berbeda. Mungkin pada saat turun di terminal sebelumnya koper Sanusi tertukar. Padahal koper milik Sanusi dikunci gembok yang ada nomornya. Sanusi baru menyadari bahwa koper yang ada dihadapannya tidak dikunci gembok. Sanusi ambruk dan merunduk. Tidak disadari tangannya menjambak rambut yang masih acak-acakan. “Jian ... cuoook!!!” ... Sanusi kembali berteriak. Rasanya ingin menagis sekeras-kerasnya. 

Tiba-tiba ... “bruaaak!!!” ... “jedeeer!!!” ... koper menghantan meja. Sanusi menendang koper itu sekuat tenaga. Seluruh isi koper berantakan memenuhi lantai karpet. Sanusi menahan nafas yang tersenggal-senggal. Sanusi mengatupkan giginya sambil menyeringai dan memejamkan matanya. Tangannya dikepalkan keras-keras. Urat lehernya terlihat membesar seperti orang sedang bernyanyi. Sanusi bingung dan panik. Jam delapan malam acara pembukaan pelatihan akan segera dimulai. “Pantas kah bila hadir pada acara itu mengenakan daster?” ...  “Apa mau dikata?” ... “Jian ... cuoook!!!” ...

Sastra Djingga © 2017.03.17

Misteri Rumah Kosong

Didapur rumah Pak Haji Mahdar terdengar suara sedang sibuk. Suara gaduh orang-orang yang sedang memasak. Terdengar jelas. Ada yang ngobrol sambil mengiris bawang diselingi dengan tawa dan canda. Ada juga yang sedang sibuk menggoreng. Gorengan diatas wajan dibulak balik. Sesekali air kran dihidupkan, kemudian ditutup kembali. Suara gelas dicuci terdengar sangat nyaring, kemudian disusun dengan rapi. Suara pintu dapur terdengar dibuka tutup pertanda sedang ada kesibukan. Malam itu di rumah Pak Haji Mahdar terdengar hingar bingar. 

Telinga Bi Inah berkedut, ia terbangun dari tidurnya dan kepalanya sedikit agak dimiringkan. Bi Inah berpaling ke sampingnya, terlihat suaminya Mang Jupri tertidur pulas dan mendengkur. Bi Inah perlahan mengangkat badannya, lalu ia duduk disamping suaminya yang sedang pulas. Kembali kepala Bi Inah sedikit demi sedikit dimiringkan. Telinga Bi inah di korek-korek dengan telunjuknya dan rambutnya disingkap agar jelas pendengarannya. 

Perlahan Bi Inah berdiri dan melangkah membuka pintu kamar. Bi Inah menuju ke arah dapur yang sedang ramai dan sibuk memasak. Bi inah berdiri didepan pintu dapur yang tertutup rapat. Sekali lagi rambut Bi Inah disingkapkan. Kupingnya ditempelkan ke dekat pintu dapur. Benar terdengar sedang ada orang yang sedang memasak. Terdengar begitu ramai dan sibuk. Bi Inah tetap berdiri di depan pintu dapur terpaku mendengarkan kesibukan di dapur.

“Sedang apa berdiri didepan pintu jam segini, Inaaah!!!”

Bi Inah kaget tiada tara. Seperti disambar petir. Jantungnya berdetak kencang. Seketika keringat dingin mengucur membasahi jidatnya yang jenong.

“Kesini Pak!!!” ... Bi Inah memanggil suaminya untuk mendekat dengan suara pelan. Tangan Bi Inah melabai ke arah suaminya. 

“Dengar Pak!!!” ... “Didapur ramai sekali!!! ... “Seperti ada orang yang sedang masak!!!” ... Bi Inah berbisik kepada suaminya yang dari tadi tidak mendengar suara apapun. 

“Mana!!!” ... “Tidak ada suara apa-apa!!!” ... Mang Jupri tetap pada pendiriannya. 

“Ah yang bener Pak!!!” ... Bi Inah heran. Seketika suara gaduh didapur hilang. Sunyi senyap ditelan malam. Bi Inah bergegas menarik tangan suaminya kembali menuju ke kamar tidur.

“Iya aku tidak mendengar suara didapur itu!!!” ... Mang Jupri berikeras. 

“Mimpi kamu Inah!!!” ... Mang Jupri tidak yakin dengan apa yang dialami oleh Bi Inah.

“Masa aku mimpi!!!” ... “Jelas tidak bisa tidur dari tadi!!!” ... “Berisik sekali suara gaduh di dapur tadi Pak!!!” ... Bi Inah meracau, jengkel atas kelakuan suaminya.

Semenjak ditinggal Pak Haji Mahdar tiga bulan yang lalu, rumah itu sering kosong. Bu Haji Hamidah sering dijemput anaknya yang paling tua agar tidak kesepian. Sudah dua minggu Bu Haji Hamidah ikut dengan anaknya di kota. Sebelumya, Bu Haji Hamidah menitipkan rumahnya kepada Mang Jupri. Kebetulan rumah Mang Jupri berada di belakang rumah Pak Haji Mahdar. Sudah hampir tiga puluh tahun Mang Jupri mengabdi kepada Pak Haji Mahdar. Menggarap sawah. Memelihara kambing. Menjaga kolam ikan dan pekerjaan lainnya. 

Baru tiga hari Bi Inah dan Mang Jupri menginap di rumah itu. Setiap malam Bi Inah tidak pernah tidur nyenyak. Selalu saja ada suara-suara aneh yang menurutnya menakutkan. Bukan saja suara-sura aneh yang berasal dari dapur saja, tetapi sering terdengar juga suara orang sedang mandi atau mencuci pakaian di tengah malam. Bi Inah selalu mencerikan semua kejadian yang dialami kepada suaminya. Namun Mang Jupri tetap berikukuh tidak percaya. Selama menginap di rumah itu Mang Jupri tidak pernah mendengar suara-suara aneh yang pernah diceritakan oleh istrinya.

Pagi-pagi setelah Bi Inah dan Mang Jupri membersihkan rumah majikannya. Mereka berdua bergegas pulang ke rumahnya yang ada di belakang. Seperti biasa Mang Jupri pergi ke sawah dan Bi Inah sibuk di dapur. Saat siang hari Bi Inah tidak pernah mengingat kejadian-kejadian yang dialaminya selama menginap di rumah majikannya. Bi Inah sibuk dengan rutunitasnya dan melayani Mang Jupri sang suami tercinta beserta anak bungsunya yang masih sekolah di SMP.

 Hari itu Bi Inah menjalani rutinitasnya seperti tidak pernah ada kejadian yang dialaminya. Bi Inah duduk di bangku kayu tempat suaminya istirahat ketika pulang dari sawah. Satu dua teguk teh panas diminumnya sambil mencet-mencet remot kontrol televisi, mencari acara sinetron kesayangannya. Tiba-tiba Bi Inah terperanjat ... “Astagfirullah!!!” ... Bi Inah teringat Bu Maryam pemilik warung di gang sebelah. Bergegas Bi Inah berdiri, melangkah menuju kamar hanya untuk memakai jilbab. Setelah mengunci pintu, Bi Inah berjalan agak tergesa-gesa menuju warung Bu Maryam. 

Tiba-tiba begitu sampai di depan warung ... “Eeeh Bi Inah!!!” ... sapa Bu Ratna tetangga depan rumah Bu Haji Hamidah. 

“Kemana saja bu lama tidak kelihatan” ... saut Bi Inah sambil menjulurkan tangan ngajak bersalaman.

“Ada kok” ... “Setiap hari ada di rumah” ... Sambut Bu Ratna sambil menjulurkan tangan bersalaman dengan Bi Inah.

“Pasti senang ya bi” ... “Bu Haji dikunjungi anaknya, apalagi bawa cucu yang lucu-lucu” ...”Kapan datangnya Neng Tini? ... Saya tidak dengar mereka datang?” ... “Pasti Bu Haji nyuruh Bi Inah belanja kesukaannya si Neng Tini” ... “Iya kan bi?” ... Bu Ratna nyerocos tiada henti seperti burung kacer yang baru dikasih makan kroto.

Bi Inah hanya melongo. Memandang kosong wajah Bu Ratna dengan penuh perasaan kaget dan heran. “Kapan Bu?” ... “Ibu melihat mereka ada di rumah Bu Haji?” ... Bi Inah malah balik bertanya.

“Tadi malam bi!!!” ... “Rame sekali didalam rumah!!!” ... “Mereka pada ngobrol, cucu-cucunya pada bermain dan bercanda!!!” ... “Sampai jam dua malam masih ramai bi!!!” “Tapi mobilnya tidak kelihatan bi!!!” ... “Kan kalau Neng Tini pulang biasanya bawa mobil itu tuh ... yang warna hitam itu!!!” ... “Apakah mereka naik kereta ya bi?” ... Bu Ratna tambah nyerocos.  

“Tadai malam saya tidur di rumah Bu Haji ditemani suami” ... “Di rumah itu tidak ada siapa-siapa” ... “Tiga hari yang lalu Bu Haji dijemput oleh anaknya yang di Jakarta” ... “Saya sama suami dititipin rumah oleh Bu Haji” ... “Ini kuncinya!!!” ... Saut Bi Inah agak gugup.

“Ah yang bener bi!!!” ... “Bu Haji pergi ke Jakarta?” ... “Terus siapa bi yang ada dirumah?” ... “Selama tiga malam ini saya dengar rame terus didalam rumah”... saut Bu Ratna mulai gugup. Terasa bulu kuduknya merinding. Badanya terasa dingin seperti disiram es. Bi Inah hanya bisa geleng-geleng kepala sambil memandang kosong wajah Bu Ratna yang pucat pasi.

“Astagfirullah!!!” ... Bi Inah kembali terperanjat. Tujuan Bi Inah ke warung Bu Maryam bukan untuk belanja sayuran atau lainnya. Tetapi Bi Inah masih punya hutang bersas sepuluh kilo yang belum dibayar. Kebetulan sebelum Bu Haji Hamidah pergi ke Jakarta diberi uang dua ratus ribu sebagai upah menunggu rumah. 

Setelah Bu Ratna pergi, Bi Inah memikirkan cerita yang baru saja didengar dari orang lain. Namun bukan saja Bu Ratna dan Bi Inah yang sering mendengar suara-suara aneh di rumah itu, tetapi hampir semua orang di gang rumah itu pernah melihat dan mendengar sesuatu yang aneh dan menakutlkan. Semantara rumah itu sudah mulai ditawarkan akan dijual sejak sebulan yang lalu. Walaupun rumah itu akan dijual murah, tetapi belum ada satu yang berminat membeli rumah itu. 

Semenjak ditinggal Pak Haji Mahdar, rumah itu terlihat sepi. Sejak itu pula Bu Haji Hamidah sering melamun di teras rumah. Hanya sekedar untuk menghilangkan rasa sepi, sesekali Bu Haji mengajak tetangga untuk menemani kalau malam tiba jika Bi Inah berhalangan. Namun tidak ada yang mau. Mereka tahu tentang rumah itu. Mereka sering mendengar dan melihat sesuatu yang aneh dan menakutkan. Apalagi kalau sedang ditinggal pergi Bu Haji. Hanya Bi Inah dan Mang Jupri saja yang mau nunggu rumah itu karena sudah tiga puluh tahu lamanya mereka sering menginap di rumah itu.

Bi Inah mendadak pergi ke Bandung, mendapat kabar menantunya akan melahirkan anak pertama. Mang Jupri tidak ikut karena harus menemani anaknya yang masih sekolah. Selepas isya Mang Jupri bergegas menuju ke rumah Pah Haji Mahdar. Sebelumnya mengajak anaknya untuk menemaninya. Tetapi anaknya menolak karena banyak tugas dan pekerjaan rumah alasannya. Mang Jupri melangkah dengan pasti menelusuri gang kecil samping rumah Pak Haji Mahdar. 

Langkah Mang Jupri terhenti. Tepat disamping dapur rumah Pak Haji. Telinga dan kepalanya agak dimiringkan. Mang Jupri mendengar ada suara orang sedang masak. Suara centong dan wajan beradu. Song seng song seng suaranya terdengar nyaring. Tak lama kemudian terdengar suara orang mencuci piring. Trong trang trong trang suara pring beradu. Mang Jupri kaget. Teringat cerita istrinya. Teringat cerita para tetangga tentang rumah itu. “Apa betul ada kejadian seperti itu?” ... Mang Jupri hanya bergumam. Sementara suara-suara aneh didapur rumah Pak Haji masih terdengar. Bulu kuduk Mang Jupri mulai merinding menjalar ke tangannya. Lutut Mang Jupri gemetar terasa berat untuk melangkah.

Ketika tiba di depan rumah Pak Haji. Mang Jupri tambah gemetaran dan gugup. Melihat rumah Pak Haji terang benderang. Tidak tahu siapa yang menyalakan lampu. Hampir semua ruangan menyala. Mang Jupri berusaha untuk tegar dan berani. Perlahan kunci pintu ia buka. Kreeeeek ... pintu pun dibuka. Seketika Jantung Mang Jupri terasa berhenti. Nafas Mang Jupri agak tersenggal. Melihat televisi menyala. Di kamar mandi terdengar ada orang sedang mandi. Suasana terasa tambah angker. Namun Mang Jupri tetap berusaha menenangkan dirinya. Sambil membaca doa sebisanya.

Beberapa saat Mang Jupri berdiri kaku seperti patung. Pikiran Mang Jupri diselimuti macam-macam prasangka. Jangan-jangan roh Pak Haji masih gentayangan didalam rumah. Mang Jupri berniat menuju ke dapur. Sunyi senyap. Tidak terdengar lagi suara orang sedang masak dan mencuci piring. Baru saja mang Jupri melangkahkan kakinya, tiba-tiba terdengan suara "ceklek!!"! ... dan lampu di rumah itu mati. Gustiiiiii!!! ... “Ya Allaaah!" ... "Ya Robbiiiiii!!!” ... Mang Jupri tersentak dan ingin berteriak. Mendadak bulu kuduk Mang Jupri berdiri. "Kreeeek!!!" .... terdengar pintu kamar mandi seperti ada yang membuka. Dan ... "Blug!!!" ... terdengar suara pintu kamar mandi ada yang menutup. Jantung Mang Jupri berdetak kencang tidak karuan ... "dag dig dug" ...  "dag dig dug" ... seperti suara beduk. Mang Jupri hanya bisa bersandar sambil berdiri kaku di dinding rumah. Ruangan gelap gulita. Tubuh Mang Jupri gemetar hebat. Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya.

"Maaang!!!" ... Ada suara dari samping Mang Jupri. “Mang Jupri sedang apa disini?!!!” ... Mang Jupri tambah gugup. Nafasnya tidak beraturan. Jantungnya berdetak keras. Suara yang terdengar tidak asing lagi bagi seorang Mang Jupri. Suara Pak Haji Mahdar. Terdengar jelas dan nyaring. Mang Jupri tambah lemas dan gugup. Tiba-tiba ... "Gedebuk!!!" ... Tubuh Mang Jupri menghantam lantai. Mang Jupri Pingsan. Tidak ingat lagi bumi, langit dan segala isinya.

Lampu rumah telah menyala kembali. Rupanya kapasitas listrik di rumah itu tidak kuat menahan beban dan anjlok. Den Mahmud dan istrinya hanya bengong dan bingung melihat Mang Jupri tergeletak di lantai.

"Buuun!!!" ... “Ini Mang Jupri kenapa pingsan?!!!”  ... Den Mahmud bingung.

"Iya Yah!!!" ... "Mana?!!!" ... saut istri Den Mahmud.

“Ini lihat disini!!! ... saut Den Mahmud.

“Astagfirullah Hal Adziiiiiim!!!!" ... “Maaang bangun Maaang!!!” ... Istri Den Mahmud merengkuh dan menggoyang-goyang tubuh Mang Jupri.

Den Mahmud dan istrinya adalah anak bungsu yang baru menikah lima bulan lalu. Mereka mendapat tugas dari ibunya untuk mengambilkan pakean dan obat ibunya yang tertinggal. Ibunya memberikan kunci serep rumah. Karena kembali ke Jakarta sudah terlalu sore, mereka berdua memutuskan untuk menginap semalam. 

Mang Jupri telah siuman dan sadar kembali. Mang Jupri hanya bisa mengedipkan mata. Seluruh badannya terasa lemas. Teringat cerita istrinya dan para tetangganya. Teringat ada orang memasak didapur. Teringat ada orang mandi. Teringat lampu menyala dan mati sendiri. Mang Jupri terkulai lemas tidak berdaya.

Sastra Djingga © 2017.03.12

Paman Damiri

Adalah Paman Damiri seorang pedagang buah berasal dari kampung Bukit Betet. Sudah sepuluh tahun berjualan berbagai macam buah. Menggunakan gerobak dorong setiap hari. Tidak tentu mangkalnya. Berjualan dimana saja yang penting tempatnya rame. Paman Damiri berjualan buah tergantung musimnya. Kadang berjualan buah semangka, kadang juga pisang. Sesekali berjualan jeruk atau mangga. Kalau harus diceritakan tentu sangat lelah memikul buah dagangan setiap hari. Ia berjalan kaki. Dari kampungnya menuju ke kota atau kampung lainnya. Paman Damiri pergi berjualan dari pagi buta hingga pulang menjelang magrib. Untung yang didapat tidak seberapa, mau dibilang apa lagi, hanya segitu kenyataannya. Kehidupan keluarga Paman Damiri memang memprihatinkan, tapi Paman Damiri tetap berusaha untuk menghidupi anak dan istrinya. Paman Damiri berjanji kepada dirinya untuk mencari rejeki dari jalan yang benar.

Apalagi Paman Damiri punya anak perempuan semata wayang yang masih sekolah di sekolah dasar. Kebutuhannya sangat banyak. Sekolah di jaman sekarang segala urusan harus serba uang. Walaupun ada program pemerintah yang mewajibkan sekolah sampai sembilan tahun. Mumpung wajib belajar. Tetapi wajib hanya tinggal wajib. Bagi orang miskin seperti Paman Damiri tetep saja sesak nafas. Pada suatu saat anaknya tidak boleh masuk sekolah karena selama tiga bulan belum membayar espepe. Paman Damiri sedih luar biasa. Uang dari mana lagi yang didapat. Hidup hanya pas-pasan. Apalagi dagang buah-buahan tidak tentu hasilnya, kadang laku kadang tidak, bisa sehari, bisa seminggu, bisa sebulan. Habis terjual.

Ya Allah ... "apa yang harus aku perbuat?" ... Anakku tidak boleh masuk sekolah. Katanya wajib belajar. "Tetapi kenyataannya bengini?" ... "Kenapa tidak ada maaf dari gurunya?" ... "Apakah sekolah itu miskin?" ... Paman Damiri hanya duduk termenung. Memikirkan nasib anaknya. Karena tidak ada lagi jalan keluar. Paman Damiri terpaksa pinjam uang. Pinjamnya kepada siapa lagi kalau bukan kepada seorang rentenir. Pinjam kepada tetangga sebelah. "Mana bisa?" ... Sama saja hidupnya dalam kesusahan. Rumah kecil satu-satunya terpaksa suratnya dijaminkan. Perjanjiannya kalau mengembalikan hutang sudah ditentukan jumlahnya lebih besar daripada uang yang dipinjam. Sudah jelas seorang rentenir jahatnya lebih gila daripada  seekor kucing garong. 

Sungguh kasihan kehidupan Paman Damiri. Hidupnya sudah pas-pasan ada tambahan beban hidup. Hutang yang harus dibayar. Seperti jatuh kemudian tertimpa tangga. Untung masih berpihak kepada diri Paman Damiri. Tidak sampai stress dalam menghadapi cobaan. Tapi Paman Damiri tetap yakin. semua cobaan pasti ada hikmahnya. Ketika memiliki hutang. Paman Damiri tambah rajin jualannya. Tiap hari berkeliling di kota. Kadang-kadang ke kampung-kampung. Berharap ada untung lebih. Maksudnya untuk membayar hutang. Hutang kepada sang kucing garong.

Dasar manusia kalau sedang sial. Segalanya menjadi berubah. Ketika Paman Damiri sedang nongkrong di suatu sudut jalan sebuah kota. Buah dagangannya belum ada yang laku satu pun. Tiba-tiba datang rombongan petugas ketertiban umum. Paman Damiri tertangkap. Kemudian buah dagangannya beserta gerobak dorongnya disita dan diangkut ke atas truk. Seketika Paman Damiri menerima sebuah keputusan dari sang pemimpin rombongan itu. Katanya buah dagangannya beserta pikulannya harus ditebus. Sekian jumlahnya. Paman Damiri hanya geleng-geleng kepala. Pikirannya bingung dan melayang. Katanya mengganggu ketertiban umum. Jangankan yang beli. Seorangpun belum ada yang lewat. Paman Damiri hanya bisa meratap. Meradang dan ingin berteriak sekuat tenaga. Paman Damiri akhirnya pulang dengan tangan hampa. Berjalan seperti orang mabok. Kadang sempoyongan. Sesekali membungkuk. Karena menahan lapar. Perutnya keroncongan. 

Tiga hari setelah kejadian tersebut. Paman Damiri punya niat ingin menebus barang dagangannya beserta gerobak dorongnya. Kebetulan masih ada sisa uang pinjaman dari sang kucing garong keparat itu. Setelah sampai di kantor ketertiban umum pemerintah setempat. "Apa yang terjadi?" ... Ternyata hanya tinggal gerobak dorongnya saja. Buah dagangannya tidak tahu kemana. Tidak tahu siapa yang makan. Paman Damiri menahan nafas. Terasa sesak di dada. Tapi harus bagaimana lagi. Nasi sudah terlanjur menjadi bubur. Tidak mungkin kembali menjadi beras. 

Seketika teringat pepatah kakeknya. Jangan kaget dalam menjalani hidup. Kalau sedang bahagia ya lelah menjalani bahagianya. Kalau sedang susah ya lelah menjalani susahnya. Jangan kaget. Karena manusia jaman sekarang banyak yang aneh. Kebawah saling sikut menyikut. Keatas saling jilat menjilat. Diantara itu saling pandang memandang. Nikmati saja hidup ini. Jangan ikut-ikutan mereka. Hidup penuh dengan cobaan itu wajar. Semua cobaan pasti ada hikmahnya. Semua cobaan pasti ada batasnya. Seperti kita sedang berjalan menuju ke sebuah puncak bukit. Pasti lelah. Pasti berteduh sejenak. Dan pasti banyak rintangan. Tetapi ketika telah sampai di puncak bukit itu. Akan terlihat pemandangan yang indah. Menghadapi cobaan hidup jangan sampai menjadi keruh didalam hati. Jangan sampai ada dendam membara. Siapa tahu hidup kita kelak akan kembali terang benderang. Kita hanya berusaha. Berhasil tidaknya tinggal kita serahkan kepada yang maha kuasa. Kita harus sabar dan tekun. Agar hidup tidak tambah susah. Siapa tahu dan jangan ragu.

Seketika setelah membayar uang tebusan. Gerobak dorong kosong itu diterima dengan hati yang lapang penuh dengan ketabahan. Didorongnya perlahan. Semua itu ia iklaskan. Paman Damiri hanya bisa bergumam. Ternyata banyak sekali orang yang suka makan buah-buahan. 

Sastra Djingga © 2017.03.08